Harus Ada Ambulans Khusus untuk Tangani Bencana

Kompas.com - 16/11/2008, 20:07 WIB

LAMONGAN, MINGGU - Menghadapi musim hujan, daerah rawan bencana, seperti Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Tuban yang rawan bencana banjir luapan Bengawan Solo perlu menyiapkan penanganan bencana sejak dini. Sekretaris Kabupaten Lamongan, Fadeli, Minggu (16/11 ) menyatakan Lamongan memang daerah rawan banjir. Berbagai usaha untuk mencegah dan mengurangi dampak banjir, diantaranya dengan pengerukan embung dan waduk-waduk desa.

Pemkab Lamongan memetakan wilayah rawan banjir, menyiapkan dan mengecek peralatan serta mengaktifkan satuan pelaksana penanggulangan bencana sejak dini. Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Lamongan, Aries Wibawa menambahkan alat-alat penanggulangan bencana seperti perahu karet, alat komunikasi telah dicek.  

"Selain itu sejak dini disiapkan bongkotan kayu dan bambu (gedhek bambu) dan kawat untuk membuat tanggul darurat. Daerah rawan banjir telah dipetakan seperti Babat, Laren, Maduran, Kalitengah, Karanggeneng, Karangbinangun, dan Glagah. Sungai yang dangkal dikeruk dan dinormalisasi, tangkis-tangkis sungai juga diperbaiki," kata Aries.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Kabupaten Lamongan, Heru Sanjoto mengatakan menghadapi musim hujan sudah ada koordinasi dengan balai besar Bengawan Solo. Di Lamongan juga telah dibangun bendung gerak Babat Barrage untuk mengendalikan banjir.

"Di lokasi rawan banjir telah diperbaiki dan dibuat parapet (tanggul butan) seperti di Desa Bojo Babatan, Melik Candi Tunggal, Sluwis Maduran, Kalitengah dan Karangbinangun. Itu telah dicek bersama dan sebagian ditangani darurat. Di Melik dibuat bokongan tanggul (tanggul dipertebal)," kata Heru.

Untuk mengantisipasi banjir lokal, sejumlah waduk juga dikeruk dan dinormalisasi agar bisa menampung lebih banyak air. Waduk yang dinormalisasi diantaranya Waduk Prijetan di Kedungpring, Waduk Kruwul Ciringan dan waduk Patihan di Babat. Waduk yang dikeruk pada tahun ini Waduk Dermo, Dukuhagung, dan Tuwiri.

Untuk menanggulangi banjir, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memperbaiki lima titik tanggul di Desa Semambung, Kanor dan Sarangan, Kecamatan Kanor dan dua titik tanggul di Kecamatan Kalitidu. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bojonegoro, Andi Tjandra, mengatakan perbaikan tanggul itu untuk mengurangi terjadinya banjir ketika Bengawan Solo meluap.

"Tanggul ini berfungsi sebagai penahan air ini berada di area pemukiman dan persawahan. Tetapi pada akhir tahun 2007 lalu jebol diterjang air luapan Bengawan Solo. Perbaikan kali ini dalam rangka memperkuat bodi tanggul agar tidak rapuh," kata Tjandra.

Pemerintah Kabupaten Gresik menyiapkan dua perahu karet, serta ribuan glangsing untuk sandbag untuk mengantisipasi banjir akibat luapan Kali Lamong. "Sementara tanggul yang jebol akibat luapan Bengawan Solo akhir 2007 lalu telah ditangani secara darurat," kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Gresik, Mighfar Syukur.

Ambulans Khusus Bencana

Dalam Symposium Disaster Management and Hospital Prepareness for Emergency and Disaster, di Lamongan, Sabtu (15/11) lalu, Ketua Majelis Kolegium Ilmu Bedah, Ikatan Ahli Bedah Indonesia, Prof Aryono D Pusponegoro mengatakan sistem penanganan bencana di Indonesia kurang memadai dan sistem kegawatdaruratan tidak bekerja dengan baik. Menurut dia daerah rawan bencana banjir seperti Bojonegoro dan Lamongan paling tidak memiliki ambulans khusus untuk menanganai bencana.

Aryono mencontohkan ketika gempa terjadi di Bantul, Yogyakarta, akibat tidak siapnya sistem, pasien harus dirawat diluar rumah sakit, dari 18 rumah sakit yang ada hanya delapan yang siap dengan 53 kamar operasi. "Tindakan pembedahan pada pasien baru bisa sukses dikerjakan ketika 300 dokter spesialis dari berbagai penjuru Indonesia membantu menyelesaikan sekitar 3.000 operasi di Bantul," katanya.

Menurut Aryono, penanganan gempa di Bengkulu, pada tahun 2000 dan 2007 juga tidak siap karena sistemnya tidak pernah dibenahi. "Saya percaya kalau ada gempa yang ketiga kalinya, penanganannya pasti sama, sebab sampai sekarang tidak ada pembenahan sistem. Beda dengan penanganan Bom Bali. Ketika Bom Bali pertama, penanganan benar-benar kacau. Namun pada peristiwa Bom Bali kedua, semua lebih siap karena sudah ada safe community, mulai ambulans, perawat, dokter hingga medical dan management support rumah sakit telah siap dan terlatih," tuturnya.

Dia menambahkan kurang bagusnya sistem penangananan bencana berdampak semakin banyak orang mati sia-sia. Pemerintah dan masyarakat tidak siap ketika bencana terjadi, baik bencana alam maupun bencana sosial seperti kecelakaan lalu lintas (silent disaster). "Korban kecelakaan meninggal dalam perjalanan karena kurang cepat mendapat penanganan, bahkan pasien sering hanya diangkut dengan kendaraan umum karena ambulans terlambat datang," ujar Aryono.

Dia menyebutkan dari laporan polisi, kecelakaan lalu lintas sejak 1999 hingga 2004 di Jakarta tercatat 1.753 orang meninggal dunia di tempat kejadian, bahkan hasil laporan Universitas Indonesia menyebutkan 6.778 orang meninggal dunia karena ada pasien yang meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau