JAKARTA, SENIN — Dua insiden berturut-burut yang terjadi di lift di pondokan pada akhir pekan lalu seharusnya bisa menjadi pelajaran, baik bagi jemaah haji Indonesia maupun petugas haji. Jemaah diimbau untuk memperhatikan beban maksimal lift dan petugas haji perlu mengingatkan jemaah haji yang akan menggunakan lift dan mengecek lift yang ada di pondokan.
Media Center Haji Departemen Agama di Jakarta, Senin (17/11), menyebutkan, rata-rata pondokan di Mekkah dan Madinah memang memiliki lift yang sangat terbatas. Di Mekkah, pondokan jemaah yang rata-rata bangunan baru dan berlantai empat, hanya memiliki satu lift. Itu pun ukuran lift yang kecil dengan daya angkut maksimal sekitar empat atau lima orang saja.
Belajar dari dua insiden di atas, ada hikmah yang bisa diambil. Menurut Media Center Haji Departemen Agama, akan lebih baik jika tidak saling menyalahkan, tetapi segera mengambil langkah yang dianggap perlu. Pemilik pondokan tidak bisa disalahkan karena rata-rata hanya menyediakan satu lift. Pasalnya, di setiap pondokan para pemilik rumah ini selain menyediakan lift, juga menyediakan tangga untuk naik dan turun. Karena rata-rata bangunan pondokan baru, asumsinya, lift di pondokan juga baru.
Jemaah haji juga tidak bisa disalahkan karena rata-rata jemaah pun juga ingin cepat-cepat dalam mobilitasnya menuju masjid ataupun ketika pulang dari masjid. Misalnya ingin buru-buru ke kamar atau buru-buru ke bawah agar tak tertinggal bis yang akan mengangkutnya ke Masjidil Haram. Walaupun sudah tersedia tangga, para jemaah umumnya tetap ingin menggunakan lift karena bagi mereka lift akan lebih menghemat tenaga.
Menyalahkan petugas rasanya juga tidak tepat. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tentu juga telah mengecek pondokan sebelum jemaah tiba dan masuk ke pondokan. Mereka sudah melakukan pengecekan kelengkapan kamar, kamar mandi, termasuk kesiapan lift yang pada umumnya dalam kondisi baru.
Ke depan, jemaah haji, pemilik pondokan, dan petugas haji perlu menjaga bersama fasilitas lift yang ada di pondokan untuk kepentingan bersama. Pertama, beban maksimal lift yang rata-rata hanya mampu mengangkut empat atau lima orang, perlu ditaati. Kedua, utamakan ibu-ibu dan jemaah lanjut usia saja yang mengenakan lift, sedangkan bapak-bapak yang masih kuat bisa menggunakan tangga yang juga tersedia di pondokan. Ketiga, petugas dan pemilih pondokan perlu memeriksa sekali lagi lift yang ada di pondokan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang