Perjuangan Panjang Merengkuh Buah Hati (2)

Kompas.com - 17/11/2008, 09:23 WIB

Deg! Keputusan itu tentu membuat saya kalut. Sultan adalah anak saya satu-satunya. Tak mungkin saya hidup tanpa Sultan di samping saya. Saat itu yang ada di pikiran saya hanya satu, bagaimana cara membawa Sultan ke luar dari Mesir.

Entah dari mana, timbul ide untuk keluar dari Mesir dengan dokumen orang Mesir yang akan ke Jakarta. Nyatanya, baru sampai bandara, petugas Imigrasi Mesir tak meloloskan kami. Hari itu juga saya disidang. Keputusannya, saya dan Sultan tetap harus tinggal di Mesir. (Tapi di luar ruang sidang, salah satu petugas Imigrasi Mesir justru menyarankan agar Erlina mengulangi lagi, membawa Sultan ke luar Mesir tanpa dokumen resmi. Karena hanya cara itu yang bisa dilakukan untuk membawa pulang Sultan. Tapi Erlina emoh mengulangi lagi. Apalagi pengacara Erlina juga tak sepaham dengan anjuran pegawai Imigrasi Mesir itu)

Tindakan ceroboh saya ini yang terus-menerus diungkit keluarga Ahmad. Mereka ingin masalah ini diproses secara hukum hingga saya harus keluar dari Mesir tanpa membawa Sultan. Sampai sekarang, meski ini kasus lama, saya masih juga dipanggil pengadilan untuk sidang. Saya yakin, keluarga Ahmad ingin agar saya dideportasi keluar Mesir, tanpa Sultan. Tapi saya terus bertahan.

Melihat masalah ini, pihak konsulat KBRI turun tangan. Saya dan Ahmad didamaikan. Anehnya, setelah pertemuan itu, Ahmad masih saja melakukan pemblokiran ke Imigrasi, agar Sultan tak bisa keluar Mesir. Buktinya ketika saya mengajukan visa untuk Sultan, saya lagi-lagi ditolak kantor Imigrasi. Alasannya, hanya Ahmad yang bisa memberi visa, karena kedatangan saya dan Sultan atas jaminan Ahmad.

Karena masih tertahan di Mesir, akhirnya saya ke luar dari KBRI dan memilih tinggal di Kairo. Tabungan saya yang makin menipis, memaksa saya harus bekerja paruh waktu sebagai guru privat bahasa Ingris. Sultan pun saya masukkan ke sebuah sekolah yang cukup bagus. Saya ingin Sultan bisa hidup normal dan mendapatkan pendidikan seperti yang seharusnya.

Saya juga sudah mengganti nomor handphone agar keluarga Ahmad tak bisa menghubungi. Tapi entah bagaimana caranya, Ahmad tetap saja bisa melacak nomor HP saya. Berulangkali Ahmad merayu agar saya mau kembali ke Alexandria, tinggal bersama keluarganya.

Bahkan Ahmad berjanji keluarga dan ibunya akan menjamin saya agar bisa pulang ke Indonesia. Entah kenapa, mendengar janji manisnya yang akan membawa kami pulang ke tanah air itu, saya akhirnya luluh juga. Kami pun kembali ke Alexandria.

Namun, sekali penipu tetap penipu. Janji itu tak pernah dipenuhi Ahmad. Malah saya selalu hidup dalam tekanan dan intimidasi. Keluarga Ahmad bahkan menahan paspor saya, dengan dalih akan dibuatkan visa, karena selama ini permohonan visa saya selalu ditolak kecuali ada jaminan dari Ahmad. Tapi rupanya itu hanya trik jahat mereka. Sampai sekarang visa itu tak pernah dibuat dan pasport saya tetap ada di tangan mereka.

Sultan "Hilang"

Semula saya bersama Sultan tinggal di vila Ahmad di daerah Abu Talat, di luar kota Alexandria. Selama di vila tersebut, saya tak diperbolehkan keluar barang sejenak pun. Ke mana-mana selalu dikawal oleh keluarga Ahmad.

Namun, ketika Ahmad ke Jakarta, saya dan Sultan dipindahkan ke rumah orangtuanya di Alexandria. Tanggal 25 Juli dini hari, keponakan Ahmad, Sameh Abd Moneim (21), mengajak Sultan dan seorang saudara tiri Sultan yang bernama Muhammad Ahmad (10) ke bawah, dengan alasan menemani membeli rokok.

(Sebelum menikah dengan Erlina, Ahmad sudah menikah dengan perempuan Mesir. Dari pernikahan itu lahir tiga orang anak. Setelah mereka cerai, tiga anak Ahmad semua tinggal bersama keluarga Ahmad. Bahkan mantan istri Ahmad itu sama sekali tak boleh bertemu anak-anaknya. Bahkan, menelepon pun dilarang. Erlina menikah dengan Ahmad setelah perkawinan Ahmad dengan wanita Mesir itu cerai.)

Sejak itu, Sultan tak pernah kembali. Saya kalut bukan kepalang. Rasanya dunia ini runtuh seketika. Saya tanya pada keluarga Ahmad, mereka bersikeras Sultan diculik. Saya sungguh tak percaya. Kalau benar Sultan diculik, tentu penculiknya akan minta tebusan. Ini, kan, tidak.

Keluarga Ahmad berkeras tak tahu-menahu keberadaan Sultan dan Sameh. Padahal, saya sempat menguping pembicaraan Sameh dengan ibunda Ahmad di telepon. Tapi, di depan saya, ibu Ahmad bersumpah tak mengetahui keberadaan baik Sultan maupun Sameh.

Sebulan saya menunggu tanpa kepastian. Saya pun sempat tak berani mengambil tindakan hukum karena Ahmad mengancam akan membunuh saya jika lapor polisi. Bahkan, saya juga ditakut-takuti, pasti kalah di pengadilan lantaran saya warga asing.

Lewat dari sebulan, saya tak tahan lagi. Saya harus melawan! Saya urus paspor baru ke KBRI. Saya juga pergi ke kantor polisi melaporkan hilangnya Sultan. Saya bahkan mengajukan permohonan perwalian ke Mahkamah Mesir. Untuk yang terakhir ini, saya menang. Putusan Mahkamah Mesir menyebutkan saya yang berhak mendapat perwalian Sultan.

Anehnya, meski sudah mengantongi dua surat "sakti", Sultan tak kunjung ditemukan. Beberapa kali polisi menggerebek rumah Ahmad dan Sameh, Sultan tak pernah ada. Meski begitu, saya tetap yakin, Sultan ada di tangan mereka. Sayangnya, sampai sekarang Sameh tak pernah diperiksa polisi hingga saya tak tahu di mana keberadaan Sultan. Akibat laporan itu, saya diusir dari rumah dan diancam akan dibunuh.

Saya memang sudah tak mau lagi kompromi dengan keluarga Ahmad. Saya juga tak akan meninggalkan Mesir sebelum Sultan ditemukan dan bisa saya bawa ke Indonesia. Saya rela hidup terlunta-lunta di negeri orang. Semuanya ini demi Sultan, anak saya satu-satunya.

Nota Diplomatik pun Dilayangkan

Pihak KBRI di Kairo berjanji akan mendukung penuh penyelesaian masalah ini. Apalagi perjuangan Erlina adalah perjuangan untuk mencari keadilan. Hal ini diungkapkan M. Abdullah, konselor KBRI Mesir. Langkah yang akan dilakukan adalah mempertemukan Erina dengan Ahmad dan menghimbau keduanya untuk rujuk.

"Langkah ini semata-mata untuk kepentingan anak mereka," kata lulusan Sastra Inggris UGM ini. Untuk langkah ini, KBRI akan mengundang Ahmad.

Namun di luar itu, pihaknya juga sudah mengirim nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Mesir agar memerintahkan pihak polisi untuk mengeksekusi putusan Mahkamah yang menyebutkan Erlina yang berhak mengasuh Sultan. "Ini yang terus kita desak agar polisi Mesir segera melakukan tindakan mengambil Sultan dari keluarga Ahmad."
Ahmad sendiri yakin Sultan ada di tangan keluarga Ahmad, meski Ahmad sendiri berdalih Sultan bersama Erlina. "Ucapan Ahmad itu jelas tak masuk akal. Kalau Erlina sudah bersama Sultan, kenapa juga dia masih di Mesir mencari Sultan. Kalau Erlina sudah menemukan Sultan, dia pasti akan pulang ke Indonesia," jelas Abdullah yang secara pribadi sangat kagum dengan perjuangan Erlina.

Hari Minggu lalu, pihaknya juga sudah mengirim surat ke Susan Mubarak, istri Presiden Mesin Husni Mubarak. Surat KBRI ini hanya sebagai pengantar surat dari KPAI yang minta dukungan kepada Ibu Negara Mesir ini untuk ikut membantu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau