Orang yang Tak Bahagia Nonton TV Lebih Banyak

Kompas.com - 17/11/2008, 10:00 WIB

Apakah Anda tidak bisa lepas dari televisi? Kalau begitu, Anda mungkin termasuk orang yang kurang bahagia. Menurut sebuah penelitian, mereka yang kurang bahagia menonton TV 30 persen lebih banyak dibanding orang yang hidup bahagia.

Temuan yang diumumkan minggu lalu itu merupakan hasil penelitian terhadap sekitar 30.000 orang dewasa di Amerika antara tahun 1975 dan 2006, sebagai bagian survey sosial masyarakat.

Mereka yang mengaku bahagia biasanya menonton televisi sekitar 19 jam setiap minggu, sedangkan yang kurang bahagia menghabiskan waktu di depan TV lebih panjang, yakni 25 jam per minggu.

Selain itu, mereka yang bahagia biasanya lebih aktif secara sosial, lebih banyak menghadiri pertemuan-pertemuan keagamaan, dan membaca koran lebih banyak dibanding yang kurang bahagia.

Meski begitu para peneliti tidak yakin apakah ketidakbahagiaan mendorong orang untuk lebih sering nonton TV, ataukah sebaliknya, lebih sering nonton TV membuat orang menjadi kurang bahagia.

Namun demikian, hampir semua orang mengaku senang nonton TV. Penelitian sebelumnya bahkan menemukan bahwa orang-orang menikmati nonton televisi. Dalam penelitian ini pun, para partisipan memberi angka 8 untuk aktivitas nonton TV - dari skala 0 (tidak suka) hingga 10 (sangat menikmati).

Tetapi, kesenangan nonton TV ini rupanya tidak berlangsung lama. "Data-data menunjukkan bahwa TV mungkin menyediakan kesenangan sesaat, namun memberi efek kurang baik yang panjang," kata John Robinson, peneliti yang adalah sosiologis dari Universitas Maryland.

Dalam kasus seperti ini, bahkan petualang yang paling bahagia pun bisa menjadi orang yang tanpa semangat bila terus menerus nonton televisi. Pasalnya, menurut para peneliti, nonton televisi bisa menyingkirkan aktivitas lain yang sebenarnya memberi efek bahagia lebih lama. Dicontohkan, berolahraga dan bercinta, serta menghadiri pesta atau bersosialisasi diyakini menghasilkan manfaat psikologi yang lebih besar.

Atau dalam skenario berbeda, barangkali televisi telah menjadi tempat pelarian bagi mereka yang kurang bahagia?

"Nonton TV bukanlah aktivitas yang sulit atau perlu keahlian, sehingga orang dengan kemampuan sosial rendah bisa melakukannya," tulis Robinson dan rekannya Steven Martin dalam journal Social Indicators Research yang bakal diterbitkan bulan Desember.

"Lebih jauh, ketidakbahagiaan kronis cenderung membuat seseorang atau lingkungannya menjadi lemah dan kemudian mempengaruhi pekerjaan dan aktivitas sosialnya. Dan mereka yang tidak bahagia, bisa dengan mudah terhibur oleh TV."

Nah, guna mencari tahu mana yang lebih dahulu, televisi atau ketidakbahagiaan, para peneliti akan melanjutkan penelitiannya. Mereka juga akan berusaha mencari hubungan antara televisi dengan kebahagiaan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau