JAKARTA, SENIN - Di tengah krisis global seperti saat ini, industri elektronik terlihat makin teliti membidik pasar untuk produk-produknya. Sementara, Indonesia, kata Presiden Direktur Direktur Sharp Elektronics Indonesia (SEID) Fumihiro Irie, tetap merupakan pasar potensial untuk produk semisal mesin cuci. "Pasarnya adalah jumlah penduduk Indonesia yang banyak," kata Irie pada peresmian pabrik baru mesin cuci dan peluncuran lini produksi kedua lemari es, Senin (17/11).
Usai menghentikan divisi audio visual di Indonesia serta mengalihkan divisi itu ke Malaysia pada Oktober lalu, SEID membuka pabrik baru untuk mesin cuci pada November 2008. "Tadinya, mesin cuci didatangkan dari pabrik kami di Filipina," kata Irie.
Menurut catatan Electronics Marketer Indonesia (EMC), pasar Indonesia lebih memilih mesin cuci tabung ganda (twin tub) ketimbang model drum maupun full automatic. Pada 2006, dari permintaan 748.000 unit mesin cuci, 74 persennya atau 556.000 unit adalah model twin tub.
Beranjak ke 2007, twin tub masih mendominasi 75 persen dari total permintaan 967.000 unit. Lalu, pada 2008, twin tub masih di posisi 74 persen dari 1,225 juta unit mesin cuci yang diminta konsumen dalam negeri.
Maka dari itulah, melihat pertumbuhan pasar sepert ini, Sharp mengeluarkan dana investasi 434 juta yen atau sekitar Rp40 miliar untuk pabrik baru mesin cucinya itu. Menurut Irie, Sharp pun akan berinvestasi untuk mesin injeksi dan mesin full automatic. Syaratnya, setelah penjualan di pasar domestik meningkat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang