Rektor UI Bantah Komersialisasi

Kompas.com - 18/11/2008, 00:44 WIB

TOKYO, SENIN - Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Gumilar R Soemantri membantah tudingan yang menyebutkan UI kini telah menjadi perguruan tinggi yang komersial, menyusul semakin mahalnya biaya pendidikan di universitas negeri tersebut.

"Omong kosong itu," kata Rektor UI di Tokyo, Senin, usai menjadi pembicara dalam "Tokyo Scholars Forum" yang digelar Persatuan pelajar Indonesia (PPI) Jepang di kampus Tokyo Institute of Technology.

Menurut dia, UI tetap membantu mahasiswa berprestasi yang tidak memiliki kemampuan untuk membiaya kualiahnya di UI. Ia bahkan menyebutkan bahwa hingga kini ada mahasiswa yang membayar hanya sebesar Rp300.000 per semester.
 
Namun demikian ia mengakui bahwa bagaimanapun penyelenggaraan pendidikan tinggi yang bermutu membutuhkan fasilitas yang baik.

"Pendidikan yang baik harus didukung fasilitas pendidikan yang baik juga," kata Gumilar yang bertekad menjadikan UI sebagai Kampus Rakyat.

Ia lantas menceritakan bagaimana mahasiswa sekarang menuntut ruang kelas yang memiliki pendingin udara (AC), taman yang cantik, dan perpusatakaan yang nyaman. Sementara mereka juga mampu kuliah dengan kendaraan pribadi.  Belum lagi saat dikembangkan fasilitas untuk penggunaan "laptop" (komputer jinjing) di kampus, ternyata dari 35.000 mahasiswa UI, sebanyak 20.000 di antaranya memiliki peralatan canggih tersebut.  

"Jadi kita harus diajak berpikir ’justice’, berpkir secara adil," kata Rektor UI termuda itu.

Lebih jauh pria kelahiran Tasikmalaya 45 tahun lalu itu juga menceritakan tekad UI yang ingin menjadi perguruan tinggi kelas dunia dengan menjadikannya sebagai perguruan tinggi yang mengedepankan riset unggulan.

"UI ditargetkan sudah bisa masuk dalam peringkat seratus perguruan tinggi terbaik dunia pada tahun depan," katanya.

UI sendiri berdasarkan Times Higher Education- QS World University Rangking (THE-QS World) periode 2008 menduduki peringkat 287 dari 500 perguruan tinggi terbaik di dunia. ITB dan UGM berada di peringkat 315 dan 316.

Target ini, katanya, diharapkan dapat membangkitkan rasa percaya diri anak bangsa untuk terus berkontribusi dalam membangun peradaban dunia melalui pendidikan nasional. Di masa datang bukan mustahil bila pemuda-pemudi terbaik dari dalam dan luar negeri hadir untuk mengenyam pendidikan di UI sebagai universitas kelas dunia.

THE- QS World mensyaratkan empat kriteria, yaitu kualitas penelitian (research quality), kualitas pengajaran (teaching quality), kualitas lulusan (graduate employability) dan aspek internasional (international outlook).

UI mengantongi nilai signifikan pada aspek kualitas penelitian. Indikator dari aspek ini ialah persepsi mengenai UI dari para responden (peer review) di seluruh dunia serta jumlah kutipan (citations per faculty) dari paper ilmiah yang dihasilkan UI.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau