Mantan Tahanan Guantanamo Dikucilkan Keluarga

Kompas.com - 18/11/2008, 09:24 WIB

Status sebagai teroris telah menghancurkan hidup para mantan tahanan Teluk Guantanamo meskipun ia telah dibebaskan. Banyak mantan tahanan yang dibebaskan dari pusat tahanan AS di Teluk Guantanamo, Kuba, secara fisik dan kejiwaan mengalami trauma. Mereka dirongrong utang dan dijauhi di dalam masyarakat karena mereka sebagai tersangka teroris.

Dua pertiga mantan tahanan yang diwawancarai antara Juli 2007 dan Juli 2008 menderita akibat masalah kejiwaan, termasuk mimpi buruk, luapan amarah, penarikan diri dari masyarakat dan depresi. Demikian hasil studi oleh beberapa peneliti di University of California di Berkeley (UCB) dan dilaporkan kantor berita China Xinhua, Selasa (18/11).

Laporan tersebut, yang berjudul "Guantanamo and its Aftermath" adalah studi luas pertama terhadap tahanan yang dibebaskan dari pusat tahanan AS Guantanamo.
 
"Saya telah kehilangan harta saya. Saya telah kehilangan pekerjaan saya. Saya telah kehilangan keinginan saya," kata seorang pria Afghanistan, salah seorang dari 62 mantan tahanan di sembilan negara yang diwawancarai tanpa disebutkan nama mereka oleh para peneliti untuk laporan yang disiarkan oleh San Francisco Chronicle, Senin (17/11).

Seorang pria lagi, tanpa pekerjaan dan miskin, mengatakan keluarganya mendepak dia setelah ia pulang, dan istrinya pergi untuk hidup bersama keluarganya. "Saya mempunyai tas plastik untuk menyimpan barang-barang yang saya bawa-bawa setiap waktu," katanya. "Dan saya tidur setiap malam di masjid yang berbeda."

Banyak mantan tahanan juga melaporkan rasa nyeri yang sering atau selalu terasa akibat perlakuan yang mereka alami selama di dalam tahanan. Enam orang mengatakan bahwa buat mereka, perlakuan itu meliputi diikat dari langit-langit di satu pangkalan udara AS, kata studi tersebut.

Laporan itu menyerukan pembentukan satu komisi untuk menyelidiki keadaan di Guantanamo dan penjara lain tempat tersangka pelaku teror ditahan dan, kalau perlu, menyarankan penyelidikan pidana "pada semua tingkat sipil dan komando militer".

"Kami tak dapat membersihkan bab kelam ini dalam sejarah bangsa kami semata-mata dengan menutup pusat tahanan Guantanamo," kata Eric Stover, Direktur Pusat Hak Asasi Manusia, UCB. "Pemerintah baru harus menyelidiki apa yang salah dan siapa yang mesti bertanggung jawab."    

Presiden terpilih AS Barack Obama telah mengatakan ia berencana menutup Guantanamo. Selama kampanye, ia mengkritik komisi militer yang didirikan Presiden George W. Bush untuk mengadili tahanan di pangkalan itu dan mengatakan ia lebih memilih pengadilan sipil reguler atau pengadilan militer, tempat para tersangka memiliki hak lebih besar.

Namun Obama belum mengumumkan rencananya bagi pengadilan tersebut atau bagi mayoritas tahanan yang kini ditahan tanpa dakwaan.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau