JAKARTA, SELASA — Garuda akhirnya tidak tahan menghadapi gempuran mata uang Uwak Sam. Rupiah Selasa (18/11) pagi terpuruk menembus level Rp 12.000 per dollar AS. Mata uang Indonesia ini berada di kisaran Rp 12.050 per dollar AS.
"Yang jelas rupiah sulit menguat karena tidak ada faktor positif yang mendukung. Apalagi, semua mata uang utama Asia lainnya juga terpuruk terhadap dollar AS," kata Direktur Utama PT Financ Corpindo Edwin Sinaga di Jakarta, Selasa.
Kondisi pasar, menurut dia, memang sulit untuk memicu rupiah menguat. Apalagi, Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar tidak akan melakukan intervensi setiap waktu. BI hanya akan masuk pasar apabila kondisi memang memungkinkan untuk menahan rupiah tidak terpuruk lebih jauh. "Saya kira penurunan rupiah merupakan hal yang wajar karena ini merupakan gejala global yang sulit diatasi," ucapnya.
Apalagi, kata dia, semua investor asing aktif membawa kembali dana yang ada di pasar negara berkembang ke negaranya masing-masing, kecuali China untuk diinvestasikan di negara, seperti Amerika Serikat. "Hal ini merupakan faktor yang sangat menekan nilai tukar rupiah dalam waktu lama," katanya.
Aktifnya pelaku asing menarik dananya di negara berkembang memang tidak menguntungkan, tetapi ini merupakan konsekuensi bagi negara Asia untuk bisa mandiri lebih dini dan saling bahu-membahu untuk mengatasi masalah tersebut. "Kondisi ini merupakan titik balik bagi negara-negara Asia untuk tidak mengharapkan bantuan dana asing dalam membangun negara dan menghimpunnya dengan memperkuat pasar domestik," tuturnya.
Karena itu, menurut dia, rupiah pada sore nanti diperkirakan akan makin mendekati level Rp 12.000 per dollar AS yang sulit dibendung karena pasar menciptakan kondisi seperti itu. "Kami yakin rupiah masih akan terkoreksi hingga menembus angka Rp 12.000 per dollar AS, ucapnya.