Flores Tolak UU Anti-Pornografi

Kompas.com - 18/11/2008, 11:42 WIB

JAKARTA, SELASA - Penolakan terhadap UU Anti-Pornografi masih terus bergulir. Mahasiswa dan berbagai unsur masyarakat Flores, NTT juga menolak UU tersebut. Ekspresi penolakan dinyatakan dalam aksi unjuk rasa yang diikuti sekitar 1500 orang di Maumere, Sikka, Flores, NTT, Selasa (18/11).

Aksi unjuk rasa yang digelar di depan Kantor DPRD Sikka di Maumere itu antara lain diikuti oleh mahasiswa dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, biarawan dan biarawati, PMKRI, GMKI serta tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Dosen STFK Ledalero, DR Otto Gusti Madung, yang ikut dalam aksi unjuk rasa melalui telepon dari Maumere mengatakan, UU Anti-Pornografi membahayakan pluralitas budaya bangsa karena semangatnya ingin menyeragamkan tata susila. UU Anti-Pornografi juga dilihat sebagai ungkapan totalitarianisme negara karena ingin mengurus moralitas pribadi warga.

Para pengujuk rasa diterima oleh Bupati Sikka, Sosinus Mitang dan Ketua DPRD Sikka AM Keupung. Mereka mendesak Pemda dan DPRD Sikka serta DPRD dan Pemprov NTT untuk juga menyatakan penolakan terhadap UU tersebut. Pernyataan penolakan agar disampaikan melalui surat resmi kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepada para pengujuk rasa, DPRD dan Pemda Sikka menyatakaan akan memfasilitasi penyampaian aspirasi para pengunjuk rasa itu ke Pemprov NTT dan Pemerintah Pusat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau