Pascagempa, 1.500 Rumah di Buol Rusak

Kompas.com - 18/11/2008, 19:35 WIB

BUOL, SELASA - Akibat gempa berkekuatan 7,7 SR Senin (17/11) malam, setidaknya tercatat sudah 1.500 rumah di Kabupaten Buol dan Toli-Toli, Sulawesi Tengah, rusak. Jumlah korban meninggal di Buol tercatat tiga orang dan di Toli-Toli satu orang. Kendati gempa susulan sudah berkurang dan getarannya tak lagi terlalu terasa, sebagian warga yang trauma masih mengungsi ke dataran tinggi dan selebihnya di tenda yang dipasang di pinggir jalan.

Pantauan di Kecamatan Bunobagu dan Lipunotu, Buol (lebih 600 km Utara Palu), Selasa (18/11) menunjukkan, sejumlah besar rumah rusak parah. Banyak diantaranya yang rata dengan tanah dan hanya tersisa atapnya saja. Sejumlah sekolah dan fasilitas umum seperti rumah ibadah juga rusak parah.

Sejumlah ruas jalan juga retak sementara beberapa jembatan rusak maupun bergeser. Karena situasi ini, banyak warga yang memilih tinggal di tenda-tenda di pinggir jalan. ''Bagaimana mau tinggal di dalam rumah selain rumahnya rusak dan tidak bisa dipakai lagi, kami juga masih takut kalau-kalau ada gempa susulan. Apalagi waktu kejadian, saya dan anak-anak sempat terperangkap di dalam rumah. Beruntung tidak ada yang luka parah. Nanti tenang baru kami keluar dari rumah,'' jelas Suhartini (40), warga Desa Binobogu Kecamatan Binobogu, Buol.

Syamsuddin Mangge, Kepala Bagian Humas Pemkab Buol mengatakan, Bunobagu adalah salah satu kecamatan terparah di Buol yang mengalami kerusakan. Di kecamatan ini tercatat setidaknya 410 rumah rusak, 140 diantaranya rusak berat dan tidak bisa digunakan lagi dan 270 rusak ringan dan sedang. Total rumah rusak di Buol 1.444, belum termasuk fasilitas umum seperti pasar, sekolah, jembatan, kantor, dan lainnya.

Sementara di Toli-Toli, lebih 50 bangunan rusak. Kurangnya korban tewas kendati rumah yang rusak mencapai ribuan, disebabkan warga langsung keluar rumah begitu terjadi gempa. Tiga warga yang tewas di Buol, tak sempat keluar dan terperangkap reruntuhan. Adapun satu korban tewas di Kabupaten Toli-Toli, tetangga Buol, karena kaget saat gempa terjadi.

Sementara itu di Gorontalo, Sekretaris Provinsi Gorontalo Idris Rahim mengatakan, hingga Selasa, pendataan jumlah kerusakan masih berkisar puluhan dengan satu korban jiwa. ''Petugas Satkorlak sudah berada di lokasi untuk melakukan evakuasi dan pembersihan reruntuhan. Kepala Badan Satkorlak, juga sudah berada di Gorontalo Utara, daerah terparah tekena bencana,'' kata Idris.

Hingga Selasa sore, petugas dan warga di Buol belum membersihkan bangunan yang roboh. Petugas masih terus mendata kerusakan sementara warga masih trauma. Menurut rencana, pembersihan baru akan dimulai Rabu. Kendati demikian, aparat TNI dan Polisi sudah turun ke lokasi-lokasi bencana dan membuat posko. Untuk sementara, bantuan dari Provinsi Sulteng belum tiba. Bantuan berupa bahan makanan dan obat-obatan baru berasal dari Pemkab Buol.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau