JAKARTA, SELASA - Indonesia berharap dapat menembus ekspor minyak sawit mentah (CPO) ke pasar nontradisional ke kawasan Asia Tengah atau "Tan Brothers" hingga mencapai tiga juta ton sehingga dapat membantu penyerapan peningkatan produksi CPO di tengah penurunan harga.
"Kita ingin masuk ke kawasan itu sekitar 1,5 juta ton CPO, tapi kita harapkan mencapai tiga juta ton," kata Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Perikanan, Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Selasa (18/11).
Ia menyebutkan, kebutuhan CPO di kawasan Asia Tengah seperti Pakistan, Uzbekistan, dan Turmenistan sangat besar. "Mereka tidak punya minyak makan seperti itu CPO ini sehingga menjadi pasar potensial bagi kita," katanya.
Produksi CPO di Indonesia terus meningkat bahkan akan mencapai sekitar 20 juta ton pada 2010. Produksi itu dapat mencapai sekitar 40 juta ton pada 2020.
Penggunaan utama CPO adalah untuk minyak goreng dan oleochemical. Namun, pertumbuhan konsumsi minyak goreng dan industri kimia hilir memiliki tingkat pertumbuhan yang tidak sepesat pertumbuhan produksi CPO.
Permintaan potensial untuk minyak nabati yang besar adalah untuk bahan bakar sehingga pengembangan pasar BBN sangat penting untuk menyerap produksi CPO.
Pemerintah menargetkan dapat mengekspor CPO hingga mencapai sekitar 13 juta ton selama 2008. Namun, bersamaan dengan turunnya harga minyak dunia, permintaan terhadap CPO juga mengalami penurunan.
Pemerintah menempuh berbagai langkah untuk mempertahankan target eskpor itu antara lain dengan menurunkan pungutan ekspor CPO cukup drastis dari sebelumnya 7,5 persen menjadi nol persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang