KAIRO, KOMPAS - Menteri Luar Negeri Israel yang juga Ketua Partai Kadima Tzipi Livni dalam rapat dengan fraksi Partai Kadima, Senin (17/11) di Jerusalem, menegaskan gencatan senjata antara Israel dan Palestina berakhir. Ia menuduh Hamas sebagai pihak yang bertanggung jawab atas berakhirnya gencatan senjata itu.
Menteri Urusan Keamanan Dalam Negeri Avi Dichter menyerukan agar militer Israel melancarkan serangan besar ke Jalur Gaza untuk menunjukkan kekuatan Israel.
Selasa kemarin tank-tank Israel langsung memasuki bagian selatan Jalur Gaza, yang luasnya tidak lebih besar dari DKI Jakarta. Keberadaan tank-tank itu juga dilengkapi dengan buldoser dan jip-jip militer. Semua kendaraan militer ini merangsek sejauh setengah kilometer ke dalam wilayah Jalur Gaza.
Warga di Jalur Gaza selatan mengatakan tank-tank dan buldoser Israel meratakan lahan di sepanjang perbatasan di sebelah timur kota Rafah. Tank-tank Israel tidak merespons tembakan mortir dan roket dari pihak Palestina.
Untuk meredam penembakan roket dari Jalur Gaza, Israel juga menahan transportasi kargo agar tidak bisa memasok barang kebutuhan warga ke Jalur Gaza.
Kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza berlangsung selama 6 bulan. Hal itu dicapai antara Israel dan faksi-faksi Palestina, khususnya Hamas, dengan sponsor Mesir, pada 19 Juni dan sedianya berakhir pada 31 Desember 2009.
Salah seorang pemimpin Hamas, Mahmoud Zahar, menyatakan Hamas tetap berkomitmen terhadap gencatan senjata dengan Israel. ”Namun reaksi faksi-faksi Palestina terhadap Israel adalah legal,” lanjutnya.
Zahar mengungkapkan, masalah mengakhiri atau memperbarui kesepakatan gencatan senjata butuh evaluasi komprehensif bersama faksi-faksi Palestina lainnya. Selama faksi-faksi Palestina lainnya punya komitmen terhadap gencatan senjata, Hamas juga akan menyatakan komitmen.
Faktor terowongan
Eskalasi kekerasan di Jalur Gaza dimulai pada 4 November ketika helikopter Israel berhasil menghancurkan terowongan yang digali para aktivis Hamas di Jalur Gaza. Dalam gempuran Israel itu, 12 aktivis Hamas tewas.
Saat itu Israel menuduh bahwa penggalian terowongan tersebut bertujuan sebagai jalan untuk menculik tentara Israel. Pihak Hamas langsung membalas dengan menembakkan puluhan roket ke wilayah Israel.
Harian Israel Haaretz mengungkapkan, sejak kekerasan memuncak pekan lalu, faksi-faksi Palestina telah menembakkan sedikitnya 170 roket dan mortar ke wilayah Israel, dengan 17 aktivis Palestina tewas selama dua pekan terakhir ini.
Di Ramallah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband juga menekankan pentingnya mempertahankan gencatan senjata dan terus berlanjutnya pemasokan kebutuhan kehidupan pokok penduduk Jalur Gaza.
Presiden mengimbau faksi-faksi Palestina di Jalur Gaza agar menghentikan penembakan roket-roket yang hanya akan membuyarkan gencatan senjata. Miliband juga menyerukan agar Israel dan faksi-faksi Palestina berkomitmen dengan kesepahaman gencatan senjata.
Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas hari Senin bertemu di Jerusalem barat. Dalam pertemuan itu, Abbas menegaskan, otoritas Palestina telah berhasil menegakkan hukum di wilayah Tepi Barat yang ditinggalkan Israel. Peredaran senjata ilegal juga sudah turun.
Abbas juga meminta Israel menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat. Abbas menuduh Israel sebagai pihak yang memulai melanggar kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Abbas meminta Olmert membuktikan komitmen Israel soal gencatan senjata. (mth)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang