DHARAMSALA, SELASA - Warga Tibet di pengasingan hari Selasa (18/11) bertemu menyiapkan sebuah strategi baru bagi perjuangan melawan penguasaan China. Sementara Beijing kemarin memperingatkan, gerakan apa pun untuk memisahkan Tibet dari China pasti akan gagal.
Lebih dari 500 orang Tibet terkemuka berkumpul di pusat pemerintahan Tibet di pengasingan, di Dharamsala, India utara, memperdebatkan apakah akan mengganti pilihan ”otonomi bermakna” yang dianjurkan Dalai Lama dengan sebuah tuntutan untuk kemerdekaan penuh.
Pertemuan ini setelah warga Tibet di pengasingan frustrasi karena tidak adanya kemajuan dalam perundingan resmi dengan Beijing. Pertemuan ini untuk mencari jalan yang lebih maju.
Sebagian dari pemimpin Tibet itu menuntut agar sikap ”Jalan Tengah” Dalai Lama, yang menganjurkan otonomi yang lebih besar bagi Tibet, digantikan dengan tuntutan untuk kemerdekaan.
”Kalau mayoritas rakyat menawarkan cara yang berbeda dibandingkan dengan yang sekarang (Jalan Tengah), tentunya kami akan dengan senang hati mengikuti itu,” kata Samdhong Rinpoche, Perdana Menteri Tibet di pengasingan, kepada wartawan.
”Kalau parlemen dengan mayoritas membuat keputusan bahwa kami harus memperjuangkan kemerdekaan, tentunya tidak ada cara untuk menghindarinya,” kata Rinpoche.
Sementara itu, China, Selasa, mengeluarkan peringatan guna mencegah perubahan kebijakan. ”Posisi kami mengenai Tibet jelas. Upaya apa pun untuk memisahkan Tibet dari China pasti gagal,” kata Qin Gang, juru bicara Kementerian Luar Negeri China.(AFP/AP/Reuters/DI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang