RI-Brasil Sepakati Kemitraan Strategis

Kompas.com - 19/11/2008, 06:07 WIB

BRASILIA, RABU - Pemerintah Indonesia dan Brasil sepakat menjalin kemitraan strategis guna meningkatkan hubungan kedua negara. Kesepakatan kemitraan strategis itu dituangkan dalam nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Brasil yang ditandatangani wakil pemerintah Indonesia Menlu Hassan Wirajuda dan Menlu Brasil Celso Amorin di Palacio do Planalto Brasilia, Rabu (19/11). Penandatanganan dilakukan setelah pertemuan bilateral Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula Da Silva di kantor Presiden Brasil tersebut.

Selain nota kesepahaman mengenai kemitraan strategis, di hadapan kedua presiden itu juga ditandatangani kesepahaman mengenai kerja sama di bidang pertanian antara Mentan Anton Apriyantono dan Menteri Meksiko Reinolds Stephanes, dan kesepahaman untuk kerja sama di bidang energi yang ditandatangani Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Meksiko Edson Lubao. Menlu Hassan dan Menteri Celso Amorin juga menandatangani kesepahaman mengenai kerjasama pengurangan kemiskinan.

Saat berbicara dalam jamuan makan siang resmi, Presiden Yudhoyono mengharapkan hubungan ini semakin mempererat hubungan kedua bangsa dan negara yang telah terjalin 55 tahun. "Sudah waktunya Indonesia dan Brasil membangun kerangka dan dimensi baru dalam hubungan kedua negara," kata Presiden Yudhoyono.

Menurutnya, Indonesia dan Brasil memiliki agenda yang sama dalam mengembangkan demokrasi, menjaga stabilitas politik, menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan ketahanan pangan dan energi, memerangi kemiskinan, dan menyelamatkan hutan hujan tropis dan memajukan perdamaian dunia. "Dengan semua ini Indonesia dan Brasil bukan saja mitra yang alami semata, tetapi juga mitra yang dapat memberikan kontribusi penting dalam mencari solusi terhadap berbagai isu-isu global," katanya.

Presiden mengharapkan kemitraan strategis ini akan semakin meningkatkan hubungan yang semakin bermakna dan kerjasama di berbagai bidang, terutama di saat krisis keuangan global saat ini. "Upaya ini semakin penting di tengah situasi krisis keuangan global yang memerlukan upaya kita bersama untuk mengatasinya. Saya melihat perlu semakin memadukan potensi, keunggulan dan pengalaman kita masing-masing," katanya.

"Di masa depan, Indonesia dan Brasil sebagai negara dengan potensi pertanian yang besar bisa saling mempertukarkan dan saling melengkapi produksi masing-masing. Nilai perdagangan 9 bulan terakhir pada 2008 mencapai 1,7 miliar dolar AS dan perlu kita tingkatkan lagi," katanya.

Presiden Lula dalam kesempatan itu mengharapkan peningkatan perdagangan kedua negara yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua negara. "Tahun lalu nilai perdagangan mencapai 1,5 miliar dolar AS, tahun ini sekitar 2 miliar dolar AS dan tahun depan bisa 3 miliar dolar AS," katanya.

Presiden Lula mengharapkan kemitraan strategis ini semakin membuat hubungan kedua negara semakin dekat dan semakin mengerti kebutuhan masing-masing negara. "Dengan kerja sama ini, saya yakin kedua negara setelah krisis ini semakin kuat dan bagus," katanya.

Usai pertemuan bilateral itu, Presiden Yudhoyono bertemu dengan Ketua Senat Brasil Garibaldi Alves dan Ketua DPR Arlindo Chinaglia Junior.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau