JAKARTA, RABU - Gubernur Bank Indonesia Boediono mendorong pemilik valuta asing dollar Amerika Serikat di dalam negeri untuk melepas mata uang asingnya itu mengingat keuntungan yang bisa diperoleh lumayan tinggi.
Keuntungan itu relatif lumayan karena nilai tukar sudah terperosok mendekati level Rp 12.000 per dollar AS.
Selain menguntungkan pemilik valas, dampak bagi perekonomian juga positif. Tekanan yang amat tinggi terhadap rupiah saat ini sekurang-kurangnya bisa berkurang mengingat pasokan dollar AS di pasar valas meningkat.
Dalam perdagangan di pasar spot antarbank Selasa (18/11), rupiah kembali ditutup melemah 50 poin ke level Rp 11.750 per dollar AS, dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya yang sebesar Rp 11.700 per dollar AS.
Di tengah perdagangan, nilai tukar sempat menyentuh Rp 12.050 per dollar AS, posisi terburuk dalam tujuh tahun terakhir. Pada transaksi di Bank Indonesia, kurs tengah ditutup di posisi Rp 11.925 per dollar AS.
”Kami akan menjaga agar pasar tidak membuat rupiah bergerak ke level yang tidak realistis,” ujar Boediono di Jakarta, Selasa. Ia tidak menyebutkan posisi nilai tukar yang realistis itu.
Menurut Boediono, melorotnya nilai tukar rupiah saat ini disebabkan oleh himpunan faktor yang terjadi bersamaan. Penyebab utamanya adalah adanya kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo dari korporasi dan lembaga-lembaga bisnis milik pemerintah. ”Saya kira, ini semua karena masalah permintaan dan pasokan dollar AS,” ujarnya.
Tak bisa andalkan devisa
Boediono mengakui, Indonesia tidak bisa mengandalkan kucuran valuta asing dari cadangan devisa di BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Stabilisasi rupiah bisa terbantu oleh sikap pemilik valuta asing sendiri yang tidak terus-menerus menyimpan dollar AS mereka.
”Kami ingin orang juga memikirkan bahwa dengan tingkat nilai tukar rupiah seperti saat ini, mengapa dollar AS mereka tidak dilepas. Ini kan harga yang bagus (untuk dilepas),” ujar Boediono.
Pengamat pasar uang Farial Anwar menilai, pasar uang domestik belakangan ini sangat tidak efisien. Volume transaksi sangat minim, begitu pula pihak yang bertransaksi.
Dampaknya, pergerakan nilai tukar menjadi tak menentu dengan kisaran amat lebar. Satu transaksi saja, kata Farial, bisa mengubah kuotasi kurs secara signifikan. ”Sebelum krisis, perubahan tiap kuotasi hanya berkisar 5 poin. Sekarang bisa 50 poin,” kata Farial.
Kondisi ini, kata Farial, terjadi karena suplai dollar AS di pasar amat minim, sementara permintaan tetap tinggi. ”Orang yang memiliki dollar AS cenderung tak mau melepas,” katanya.
Situasi ini, kata Farial, akan berbahaya jika berlangsung terus menerus. Pelemahan rupiah yang amat dalam akan mendorong inflasi dan ketidakpastian berusaha. ”Yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan pasokan dollar AS di pasar. Salah satu caranya adalah mewajibkan repatriasi, tidak hanya BUMN, tapi juga swasta,” katanya.
Tak perlu diperdebatkan apakah repatriasi itu merupakan kontrol devisa atau bukan. ”Yang penting, masyarakat dan ekonomi domestik terselamatkan,” katanya.
Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono saat acara BNI Economy Outlook 2009 memperkirakan rata-rata nilai tukar pada 2009 berkisar Rp 10.000 dan Rp 10.500 per dollar AS.
Sementara itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuat pelaku industri, terutama yang menggunakan bahan baku impor, harus membuat berbagai langkah penyesuaian.
Turun 30 persen
Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia Gunadi Sindhuwinata menjelaskan, perkembangan kondisi sektor keuangan telah membuat pelaku industri kendaraan roda dua memproyeksikan penjualan pada tahun 2009 turun sekitar 30 persen.
Pada 2008, total produksi sepeda motor mencapai 6 juta unit, sedangkan kendaraan roda empat menjadi 580.000 unit. Tahun 2009, diperkirakan total produksi sepeda motor turun menjadi 4 juta unit, sedangkan produksi kendaraan roda empat anjlok menjadi 350.000-450.000 unit.
Gunadi mengatakan, semula produksi kendaraan roda dua dan roda empat diperhitungkan tumbuh sekitar 10 persen pada tahun 2009. ”Melemahnya nilai tukar rupiah itu bukan faktor yang berdiri sendiri. Dampaknya terhadap industri akan sangat bergantung pada bagaimana nilai tukar itu memengaruhi inflasi dan tingkat bunga,” ujar Gunadi yang juga Presiden Direktur Grup Indomobil.
Melemahnya nilai tukar rupiah, terutama terhadap dollar AS dan yen Jepang, akan memengaruhi harga pokok produksi industri kendaraan karena kandungan impor bahan bakunya. Pada industri sepeda motor, impor bahan baku maksimal sebesar 30 persen, tetapi pada kendaraan roda empat, tingkat kandungan impor amat bervariasi, bergantung jenis mobil, dari 35 persen hingga 100 persen impor.
Kenaikan biaya pokok produksi tentu mendorong industri menaikkan harga penjualan produk. Namun, penjualan otomotif di pasar domestik akan lebih banyak dipengaruhi oleh suku bunga kredit, tingkat inflasi, dan akses pembiayaan.
”Kalau melemahnya nilai tukar rupiah itu diikuti dengan kenaikan suku bunga kredit, inflasi tinggi, dan akses dana makin sulit, pasar otomotif lebih tertekan. Sekitar 85 persen penjualan kendaraan roda dua saat ini bergantung pada kredit,” ujar Gunadi.