Meski Krisis, McDonald akan Buka 475 Gerai

Kompas.com - 19/11/2008, 11:22 WIB

HONGKONG, RABU - Meski krisis finansial melanda dunia, namun sepertinya hal itu tidak menahan niatan McDonalds Corp untuk terus melakukan ekspansi. Tahun depan, restoran cepat saji terbesar dunia itu, berencana untuk melakukan investasi di kawasan Asia untuk meningkatkan jumlah pelanggannya.

“Daya beli masyarakat semakin tergerus dan kami akan berupaya menambah modal untuk itu,” jelas Tim Fenton, Presiden McDonalds untuk Asia, Timur Tengah dan Afrika. Selain itu, dia juga mengungkapkan, McDonalds akan buka lebih lama demi kenyamanan pelanggannya.

Saat ini, McDonalds berupaya untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar lagi seiring dengan resesi yang melanda dunia saat ini. Seperti yang diketahui, melambatnya perekonomian dunia telah memaksa China untuk menyuntikkan dana segar ke dalam sistem finansialnya sebesar 4 triliun yuan atau  568 miliar dollar AS. Sementara, Korea Selatan berencana menggunakan dana tambahan senilai 14 triliun won atau 9,7 miliar dollar AS pada tahun depan untuk mencegah perekonomiannya masuk ke jurang resesi untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir.

Fenton sendiri berencana meningkatkan anggaran pembelanjaan untuk pembangunan gerai baru dan renovasi di Asia, Timur Tengah dan Afrika setidaknya 20 persen menjadi 360 juta dollar AS. Jika dibandingkan dengan modal kerja atau capital expenditure (capex) tahun lalu, ada peningkatan capex sebesar 7 persen.

Selain itu, McDonalds juga berniat membuka 475 gerai tahun depan. Itu artinya, jumlah gerai yang bakal dibuka mencapai 40-45 persen dari total gerai McDonalds di seluruh dunia.

Asal tahu saja, kontribusi penjualan di kawasan Asia, Timur Tengah dan Afrika baru mencapai 18 persen saja. Jumlah ini masih terbilang sedikit dibanding kawasan Eropa yang memberikan kontribusi penjualan sebesar 43 persen dan 33 persen di Amerika Serikat (AS).

Fokus di China

McDonalds menargetkan, sekitar 175 gerai baru akan dibuka di China. Rencana ini bukan tanpa alasan. Sebab, penjualan di Negeri Panda di mana McDonalds membuka cabang ke 1.000 pada 14 November lalu, mengalami pertumbuhan sekitar 10 persen dalam 10 bulan pertama. Jika ditotal, penjualan termasuk pembukaan gerai baru di China mengalami pertumbuhan sebesar 20 persen.

Alasan lainnya, pesaing McDonalds seperti Yum! Brands Inc dan perusahaan asing lain seperti PepsiCo Inc, Best Buy Co dan Wal Mart Stores Inc saat ini tengah fokus pada emerging market seperti China. Hal ini disebabkan adanya pertumbuhan penjualan retail di negeri itu sebesar 22 persen pada bulan Oktober lalu.

Di Negeri Tirai Bambu ini, Yum! Brands juga memiliki banyak outlet. Yum, yang merupakan pemilik Pizza Hut, Taco Bell dan KFC, memiliki lebih dari 2.800 restoran di China. Bahkan pada akhir tahun nanti menargetkan untuk menggenapkannya menjadi 3.000 restoran.

Catatan saja, saat ini McDonalds memiliki sekitar 32.000 restoran secara global. Sementara Yum mempunyai 35.000 outlet.

“Rencana itu akan menambah keuntungan McDonald di tengah situasi pasar yang lemah. Biasanya, perusahaan yang memiliki dana tunai besar akan melakukannya. McDonald merupakan salah satu perusahaan yang pendanaannya sangat kuat,” jelas Janna Sampson, co-chief investment officer di Oakbrook Investment LLC.

 

 
 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau