JAKARTA, RABU - Sistem pembayaran menggunakan e-money diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan adanya alat pembayaran praktis yang memberikan kemudahan dalam bertransaksi. E-money nantinya dapat mendorong penurunan biaya transaksi dan menstimulus pertumbuhan ekonomi.
"E-money sebagai alat pembayaran non tunai yang lebih efisien dan ekonomis," kata Direktur Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran BI Murni Astuti, di sela-sela seminar Peningkatan Efisiensi dalam Penyelenggaraan E -money, di Gedung BI Jakarta Rabu (19/11).
E-money adalah sistem pembayaran menggunakan kartu yang diisi dengan sejumlah dana dan dapat diisi ulang. Menurut Murni, sistem ini sebenarnya sudah banyak, namun masih banyak masyrakat yang belum paham. Sebagai contoh penggunaaan jack card ketika menaiki bus way, transaksi tol di Surabaya, pembelian tiket di salah satu bioskop, ataupun penggunaan kartu di salah satu pusat permainan anak.
Dikatakannya, kehadiran sistem pembayaran non tunai itu, tidak bisa dipungkiri karena adanya inovasi teknologi. Namun pemenuhan kebutuhan dalam sistem pembayaran menjadi penting. "Tidak perlu lagi mengeluarkan uang berkali-kali, tapi cukup satu kartu untuk banyak transaksi," tambah Murni.
Saat ini lanjut Murni, BI selaku otoritas sedang menyiapkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan berbagai instrumen pembayran non tunai termasuk e-money melalui penyempurnaan ketentuan alat pembayaran dengan menggunakan kartu. Nantinya kebijakan ini akan mengacu pada 4 prinsip, yakni meminimalisasi risiko pembayaran, optimalisasi efisiensi secara nasional, kesetaraan akses pembayaran dan prinsip perlindungan konsumen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang