JAKARTA, RABU — Pengamat komunikasi Effendi Gazali memprediksikan pada Januari 2009 televisi akan dipenuhi iklan dari berbagai partai politik untuk saling menyerang satu sama lain.
Upaya perkenalan atau pencitraan parpol sudah lewat, berganti dengan upaya menjatuhkan lawan politik. Bahkan, Effendi menyatakan, iklan-iklan yang ditayangkan akan seperti layaknya pantun yang berbalas-balasan.
Menurut Effendi, ada tiga tahapan iklan politik, yaitu tahapan advokasi kandidat, iklan menyerang (attacking), atau iklan membandingkan (contrasting). "Saat ini iklan-iklan masih pada tahap perkenalan dan pencitraan kepada publik. Belum ada yang menyerang. Namun, iklan PDI-P saya kira sudah mulai," ujar Effendi dalam diskusi publik bertajuk "Dengan Iklan Politik Menuju Kontrak Politik" di Hotel Sari Pan Pasific Jakarta, Rabu (19/11).
Effendi mencontohkan, saat ini, seperti iklan Partai Hanura dengan figur Wiranto, iklan Partai Gerindra dengan figur Prabowo, iklan Demokrat dengan figur SBY, dan iklan PAN dengan figur Soetrisno Bachir, masih berupa tahap advokasi kepada publik serta diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Januari nanti.
"Memang, iklan Prabowo sudah lebih jauh dari sekedar introduction. Dia sudah branding. Untuk menuntut, masyarakat belum bisa," tutur Effendi.
Pada bulan itu, tentu saja sebagian besar iklan akan disampaikan dengan cara negatif (black campaign), kata Effendi. Melalui kampanye negatif, calon akan membujuk masyarakat memilih dia dengan menunjukkan track record lawan politiknya yang buruk. Sementara itu, black campaign lebih mengarah kepada unsur fitnah. "Kita sebentar lagi akan masuk attacking, apalagi dibuat begitu indah. Daya sakitnya akan lebih tajam," ujar Effendi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang