Andi Mattalata Adili Istri, Takut Terima Uang Korupsi

Kompas.com - 19/11/2008, 15:42 WIB

JAKARTA, RABU - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Andi Mattalata mengaku langsung mengadili istrinya ketika kasus uang korupsi di Departemen Hukum dan HAM (Depkumham) yang mengalir ke sejumlah istri pejabat muncul di instansi tersebut. Andi bernafas lega, ketika sang istri mengaku tak pernah menerima uang dari Koperasi Pegawai Depkumham.

"Saya adili istri saya. Menerima ga? Dia bilang, tidak menerima. Dia tidak suka ke luar negeri. Ke Mekah kemarin saja, dia biaya sendiri," ujar Andi kepada wartawan seusai membuka acara usai acara Legal Expo Institusi Pelaku Pembangunan Hukum dan HAM 2008 di Departemen Hukum dan HAM, Rabu (19/11).

Menurut dia, istrinya paling sering pergi ke kampung halaman di Makassar. Itupun, lanjutnya, memakai ongkos sendiri. Andi juga mengatakan dirinya tidak tahu-menahu soal istri pejabat Depkumham yang menerima ongkos ke luar negeri dari koperasi.

Sementara mengenai kontrak antara Koperasi Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) Depkumham dengan PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD) berujung di Kejagung, dia mengatakan kontrak tersebut dapat di-review ulang. "Bisa saja. Tapi harus ada hitung-hitungan karena kontrak itu berlaku sebagai UU," ujar Menkum HAM Andi Mattalatta. Namun, dia menuturkan, kontrak dapat dibatalkan bila ada yang melanggar UU, seperti melanggar kepentingan umum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau