JAKARTA, KAMIS - Penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) memang bikin pusing. Kemarin, dolar AS kembali menguat terhadap rupiah. Bahkan, rupiah sempat jatuh ke Rp 12.350 per dollar AS, level terendahnya sejak September 1998. Dollar AS juga terus menguat terhadap banyak mata uang negara lain.
Tapi bukan berarti investor tidak bisa meraup untung dari penguatan dollar tersebut. Penguatan dollar malah mendorong sebagian pelaku pasar dan spekulan pindah ke transaksi di pasar berjangka.
Buktinya, transaksi kontrak valas di Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) meningkat. "Pertengahan bulan ini transaksi kontrak valas di SPA sudah meningkat kurang lebih 50 persen dibandingkan bulan lalu," kata Kepala Divisi Pengembangan BBJ, Andam Dewi, kemarin.
Sebagai perbandingan, pada Oktober 2008, volume transaksi pada kontrak valuta asing tercatat mencapai 229.844 lot. Angka tersebut meningkat 86,18 persen dari volume transaksi di awal tahun yang hanya 123.453 lot.
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis dan Produk Monex Investindo Futures, Apelles RT Kawengian juga mengakui hal itu. Menurutnya, transaksi valas melalui Monex juga naik sangat tajam. Bulan lalu, Monex berhasil mencatat transaksi di pasar berjangka sebanyak 105.886 lot. Hingga akhir bulan ini, Apelles memperkirakan transaksinya akan mencapai 190.000 lot.
Andam juga memperkirakan hingga akhir tahun transaksi tersebut akan terus meningkat. "Banyak spekulan yang memanfaatkan fluktuasi mata uang sekarang ini," kata Andam. Maklum saja, kebanyakan pemain di pasar berjangka memperkirakan bahwa fluktuasi mata uang yang terjadi sekarang ini masih akan berlangsung hingga semester pertama 2009.
Dollar jangka pendek saja
Karena itu beberapa analis menyarankan, investor sebaiknya mengoleksi dollar AS hanya untuk jangka pendek. Untuk jangka panjang, dollar AS berpeluang melemah.
Nico Omer Jonckheere, Wakil Presiden Riset dan Analis Valbury Asia Securities menjelaskan, saat ini jumlah base money, atau jumlah riil dari semua uang kertas dan koin yang beredar, dari dollar AS sudah melonjak 185 persen dalam basis tahunan. "Artinya, ekonomi Amerika Serikat dalam jangka menengah ke depan akan diterjang oleh badai inflasi," terang Nico.
Bila hal itu terjadi, Nico meramalkan dollar AS akan terdepresiasi secara signifikan terhadap mata uang dari negara-negara berkembang atau emerging market. Di sisi lain, dollar AS relatif bertahan terhadap tekanan euro dan poundsterling.
Jadi, seandainya jika ingin berinvestasi di valas untuk jangka panjang, Nico menyarankan mulai saat ini ada baiknya mulai mengoleksi mata uang franc Swiss, yen Jepang dan dollar Australia. Hingga akhir tahun ini, Nico melihat euro berpotensi turun ke level 1,15 dollar AS hingga 1,20 dollar AS per euro. Adapun nilai dollar Australia, Nico memperkirakan akhir tahun nilai akan mencapai 0,50 -0,60 dollar AS per dollar Australia.
Jika ingin mencoba menangguk untung dari bermain kontrak valas melalui SPA di BBJ, "Yang menarik adalah mata uang Inggris, yaitu poundsterling," begitu saran Apelles. Sebab, fluktuasi poundsterling terhadap dollar AS terhitung tinggi. Dengan demikian, peluang investor mengeruk untung akan makin besar.