Dollar Menguat, Transaksi Valas di BBJ Melonjak

Kompas.com - 20/11/2008, 10:29 WIB

JAKARTA, KAMIS  -  Penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) memang bikin pusing. Kemarin, dolar AS kembali menguat terhadap rupiah. Bahkan, rupiah sempat jatuh ke Rp 12.350 per dollar AS, level terendahnya sejak September 1998. Dollar AS juga terus menguat terhadap banyak mata uang negara lain.

Tapi bukan berarti investor tidak bisa meraup untung dari penguatan dollar tersebut. Penguatan dollar malah mendorong sebagian pelaku pasar dan spekulan pindah ke transaksi di pasar berjangka.

Buktinya, transaksi kontrak valas di Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) meningkat. "Pertengahan bulan ini transaksi kontrak valas di SPA sudah meningkat kurang lebih 50 persen dibandingkan bulan lalu," kata Kepala Divisi Pengembangan BBJ, Andam Dewi, kemarin.

Sebagai perbandingan, pada Oktober 2008, volume transaksi pada kontrak valuta asing tercatat mencapai 229.844 lot. Angka tersebut meningkat 86,18 persen dari volume transaksi di awal tahun yang hanya 123.453 lot.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis dan Produk Monex Investindo Futures, Apelles RT Kawengian juga mengakui hal itu. Menurutnya, transaksi valas melalui Monex juga naik sangat tajam. Bulan lalu, Monex berhasil mencatat transaksi di pasar berjangka sebanyak 105.886 lot. Hingga akhir bulan ini, Apelles memperkirakan transaksinya akan mencapai 190.000 lot.

Andam juga memperkirakan hingga akhir tahun transaksi tersebut akan terus meningkat. "Banyak spekulan yang memanfaatkan fluktuasi mata uang sekarang ini," kata Andam. Maklum saja, kebanyakan pemain di pasar berjangka memperkirakan bahwa fluktuasi mata uang yang terjadi sekarang ini masih akan berlangsung hingga semester pertama 2009.

Dollar jangka pendek saja

Karena itu beberapa analis menyarankan, investor sebaiknya mengoleksi dollar AS hanya untuk jangka pendek. Untuk jangka panjang, dollar AS berpeluang melemah.

Nico Omer Jonckheere, Wakil Presiden Riset dan Analis Valbury Asia Securities menjelaskan, saat ini jumlah base money, atau jumlah riil dari semua uang kertas dan koin yang beredar, dari dollar AS sudah melonjak 185 persen dalam basis tahunan. "Artinya, ekonomi Amerika Serikat dalam jangka menengah ke depan akan diterjang oleh badai inflasi," terang Nico.

Bila hal itu terjadi, Nico meramalkan dollar AS akan terdepresiasi secara signifikan terhadap mata uang dari negara-negara berkembang atau emerging market. Di sisi lain, dollar AS relatif bertahan terhadap tekanan euro dan poundsterling.

Jadi, seandainya jika ingin berinvestasi di valas untuk jangka panjang, Nico menyarankan mulai saat ini ada baiknya mulai mengoleksi mata uang franc Swiss, yen Jepang dan dollar Australia. Hingga akhir tahun ini, Nico melihat euro berpotensi turun ke level 1,15 dollar AS hingga 1,20 dollar AS per euro. Adapun nilai dollar Australia, Nico memperkirakan akhir tahun nilai akan mencapai 0,50 -0,60 dollar AS per dollar Australia.

Jika ingin mencoba menangguk untung dari bermain kontrak valas melalui SPA di BBJ, "Yang menarik adalah mata uang Inggris, yaitu poundsterling," begitu saran Apelles. Sebab, fluktuasi poundsterling terhadap dollar AS terhitung tinggi. Dengan demikian, peluang investor mengeruk untung akan makin besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau