Obama, Sang Orator Ulung

Kompas.com - 20/11/2008, 11:21 WIB

Apakah yang menjadi rahasia utama sukses Barack Obama memenangi Pemilu AS, cara ia menyampaikan kepada pemilih atau semangat perubahan yang ia dengungkan? Ternyata sejumlah pakar menyebut cara ia berpidato dan menyampaikan pesan kepada pemilih menjadi jawabannya.

Kemampuan pidato Presiden AS terpilih Barack Obama mampu menyihir pendukungnya. Dengan kekuatan orasinya, sejumlah pakar menyebut Obama sebagai orator paling ulung pada masanya.

"Saya yakin kemampuan Obama lebih dari politisi lain, orator Amerika yang ideal," kata Ekaterina Haskins, profesor pidato asal University of Iowa. Menurutnya, pidato Obama bersuarakan lembut sama halnya pidato-pidato pada masa lampau. Ia senantiasa menciptakan nuansa sejarah, tujuan, dan kontinyuitas.

"Dia tentu mempelajari para pendahulunya. Dia jelas menampilkan dirinya sebagai sosok almarhum Abraham Lincoln dan Martin Luther King," kata Haskins.

Begitu dinyatakan sebagai pemenang, Obama menggemakan pidato dua tokoh orator ulung dalam sejarah Amerika. Yakni mantan Presiden Abraham Lincoln pada 1863 dan kata-kata mutiara yang diucapkan pejuang hak asasi manusia Martin Luther King, sehari sebelum ia tewas dibunuh, 4 April 1968 di Memphis, Tennessee.

BBC, Kamis (20/11), mencukil pidato Luther King dan Obama yang sama-sama memukau. Anda bisa membandingkan kekuatan pidato dua tokoh yang sama-sama berkulit hitam tetrsebut.

Martin Luther King : Saya mungkin tidak bersama Anda di sana tetapi saya ingin Anda mengetahui bawah malam ini kita sebagai rakyat akan memperoleh negeri menjanjikan.

Barack Obama : Jalan di depan akan panjang. Pendakian kita selangkah demi selangkah. Kita mungkin belum mencapainya setahun atau satu masa. Tetapi, Amerika,  saya belum pernah begitu berharap dari malam ini. Saya berjanji, kita sebagai rakyat akan mendapatkannya.

Philip Collins, penulis pidato mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menegaskan, sukses Obama karena kepiawaiannya berpidato. "Dia menunjukkan kekuatan brilian berpidato," kata Collins, penulis andal dari koran Times Inggris.

Ilustrasi nyata

Awalnya, pidato Obama berisi "perubahan", "janji" dan "keyakinan" membuahkan kritik karena dianggap jauh dari isi dan kebijakan. Obama mulai menyampaikan rencana kebijakan secara rinci selama kampanye. Toh, pidatonya dalam Konvensi Demokrat malah dianggap kurang menarik oleh para pengamat, karena berisi terlalu banyak rencana kebijakan.

Haskins memaparkan, Obama mempunyai teknik lain untuk menghindarkan diri dari sekadar retorika. Karena, ia menambahkah bobot dan kedalaman dalam pidatonya dengan ilustrasi yang nyata. "Retorika selalu berkonotasi tentang penampilan daripada kenyataan. Tetapi, dia tidak bersuara salah. Dia bermain dengan abstraksi yang patriotik dan memberikan contoh yang lebih nyata," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau