Razia Obat Jangan Rugikan Citra Jamu

Kompas.com - 20/11/2008, 20:49 WIB

JAKARTA, KAMIS - Makin gencarnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merazia obat tradisional dan suplemen makanan yang mengandung bahan kimia obat diharapkan jangan sampai merugikan citra jamu. Apalagi di tengah nilai ekonomi jamu sangat tinggi saat ini.

Di akhir tahun 2008 ini, bisnis jamu senilai Rp 7,2 triliun, termasuk produk kosmetik, makanan, minuman suplemen dan sebagainya. "Sebelumnya di tahun 2007, baru sekitar Rp 2,7 sampai 3 triliun," kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Trad isional Indonesia, Charles Saerang di Jakarta, Kamis (20/11).

Pada tahun 2010 sesuai dengan roadmap KADIN, target jamu diproyeksikan dapat mencapai Rp 10 triliun, dengan kegiatan ekspor yang mampu menembus 20 negara, termasuk negara-negara yang sangat ketat menerapkan standar kualitas seperti Jepang dan Eropa. Karena itu, GP Jamu dan Obat Tradisional Indonesia mengharapkan BPOM jangan sekadar merazia obat tradisional yang berbahan kimia obat, akan tetapi juga meningkatkan citra jamu dan mengklarifikasi tidak semua jamu mengandung bahan kimia obat.

"Makin seringnya razia obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat dikhawatirkan akan membuat konsumen menjadi takut mengonsumsi jamu. Padahal khasiat jamu itu bagus untuk kesehatan," kata Charles Saerang.

Jika konsumen takut mengonsumsi jamu, dikhawatirkan omzet penjualan jamu pun menurun. Namun hingga kini belum ada angka pasti berapa penurunan omzet penjualan jamu tersebut.

"Selain itu, karena sering diadakan razia, menurut Charles, pedagang jamu yang kecil-kecilan jadi enggan berjualan bahkan menutup tokonya. Ini yang memprihatinkan kami," kata Charles Saerang.   

Bermanfaat

Soal khasiat tanaman obat untuk jamu atau obat tradisional, Yuniarti dari Pusat Riset Obat dan Makanan BPOM mengatakan bahwa BPOM pernah meriset beberapa tanaman obat. Indonesia tercatat memiliki keanekaragaman hayati nomor dua di seluruh dunia. Dari 30.000 spesies tanaman yang dimiliki Indonesia, 940 spesies di antaranya berkhasiat sebagai obat.

Dulu riset untuk obat asli Indonesia menyeluruh dari budidaya sampai pengontrolan akhir, kata Yuniarti. Aktivitas riset dimulai dengan membuat prosedur operasi standar (SOP) budidaya, membuat ekstrak terstandar, uji khasiat, uji toksisistas akut, uji klinis kronis, uji klinis multicenter.

"Ditemukan ternyata bio aktif temulawak dapat berfungsi sebagai antiseptik. Potensi temulawak sebagai antiseptik ini justru diteliti, digunakan dan dipatenkan oleh Korea," kata Yuniarti. Begitu pula kulit batang brotowali yang pahit, justru senyawa-senyawanya dapat dipakai sebagai antimalaria.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau