Hal itu disampaikan Endang Windiastuti, dokter spesialis anak dari Divisi Hematologi-Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo (RSCM), dalam diskusi yang diprakarsai Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI), Rabu (19/11), di Jakarta.
Diskusi itu dihadiri sejumlah pakar hematologi-onkologi sebagai pembicara, di antaranya dr Aru W Sudoyo, dr Iswari Setianingsih, Prof Karmel L Tambunan, dan Prof Arry Haryanto Resodiputro.
”Penyakit gangguan pembekuan darah ini merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang kurang mendapat perhatian serius,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat PHTDI, Djumhana Atmakusuma.
Akses penderita terhadap pengobatan hemofilia juga masih minim karena mahalnya harga obat yang berkisar Rp 10 juta untuk satu episode perdarahan. Ketersediaan obat pendukung hemofilia dan instalasi transfusi darah juga terbatas.
”Hal ini membuat penanganan tidak optimal sehingga berisiko menimbulkan kecacatan dan menurunkan produktivitas penderita,” kata Endang.