Banyak Obat Disalahgunakan Gugurkan Kandungan

Kompas.com - 22/11/2008, 12:24 WIB

SEMARANG, SABTU - Banyak obat dan jamu yang beredar bebas di pasar, disalahgunakan untuk mengakhiri kehamilan tidak diinginkan dengan cara melipatgandakan dosis.
     
Demikian disampaikan Chatarina Wahyurini dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam seminar hasil studi "Aspek Psikososial Subjek yang Menggunakan Obat/Jamu sebagai Upaya Mengakhiri Kehamilan", di Semarang, Sabtu.
     
"Saya minum G tiga hari, terus obat cina tiga hari, M satu hari, K tujuh hari, pil T tiga hari, nanas ditambah ragi tiga hari, dan terakhir dipijat dukun....," katanya mengutip keterangan seorang responden (subjek) dari Yogyakarta berusia 34 tahun.

Chatarina juga mengungkapkan, penuturan wanita berusia 30 tahun di Medan, yang mengatakan, "Saya minum pil T tiga hari, pil K tiga hari, jamu rumput F 10 hari, dan terakhir M 10 hari...."
     
Studi psikosisial tersebut dilakukan terhadap 132 subjek dengan kriteria sebelumnya sudah minum obat dan jamu peluntur, telat haid, dan menggunakan cara medikal. Sebelumnya dilakukan studi terhadap 31.697 klien yang ingin melakukan pemulihan haid.
     
Awalnya studi kualitatif dilakukan di sembilan provinsi, namun hanya dilanjutkan di tujuh daerah, yakni Jakarta, Jawa Barat, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Sulut, dan Sumut selama Juli-Desember 2007. Dengan alasan teknis, Bali dan NTB tidak diteruskan.
     
Pengonsumsian obat dan jamu itu kadang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah kandungan, misalnya obat sakit kepala dan obat mag.
     
Selain itu, untuk mengakhiri kehamilan mereka juga banyak yang mengonsumsi bahan yang diyakini mampu memulihkan haid, seperti makan nanas muda, air tape, air kencur, air ragi, dan bubuk merica sebagai bahan tambahan.
     
Ada sejumlah alasan untuk mengakhiri kehamilan, seperti sosial, kesehatan, pekerjaan, dan gagal KB, namun alasan mayoritas adalah ekonomi.
     
"Sebenarnya saya menginginkan anak ini, tapi bagaimana lagi karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan...," kata subjek berusia 27 tahun dari Jakarta.
      
"Saya sudah punya tiga anak, saya tidak sanggup lagi membiayai kalau melahirkan anak lagi....," kata subjek berusia 35 tahun asal Semarang.
      
Dari sebanyak 132 subjek, 84 persen atau 111 subjek berstatus kawin, sedangkan 15 orang (11,4 persen) belum kawin, dan enam subjek berstatus janda atau hidup bersama.
      
Chatarina melanjutkan, sebagian besar subjek itu memutuskan hal itu atas kehendak sendiri, hanya sebagian kecil yang merupakan desakan dari pacar/suami, teman, dan terpicu oleh informasi dari media.
      
Ia juga menyoroti adanya iklan terselubung di media bertuliskan "perempuan hamil dilarang minum (jamu/obat ini, red.), bisa mengakibatkan gugurnya kandungan". Iklan ini sebenarnya ditujukan bagi wanita yang ingin menggugurkan kandungan.
     
Nara sumber lain, Prof Agnes Widanti mengatakan, aborsi bukan pilihan perempuan. Aborsi merupakan senjata ampuh bagi laki-laki untuk memaksakan kehendaknya pada fungsi reproduksi.
     
Ia juga mengatakan, alasan aborsi bukan hanya pertimbangan medis tetapi juga ekonomi, budaya, politik, perkosaan, dan KB yang gagal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau