Petani di Brebes Kehilangan Stok Benih Bawang Merah

Kompas.com - 23/11/2008, 19:37 WIB

Laporan Wartawan Kompas Harry Susilo

BREBES, MINGGU - Selain merugi belasan miliar rupiah, ribuan petani di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, bakal kehilangan stok benih bawang merah untuk musim tanam tahun 2009. Ini akibat mulai membusuknya ratusan hektar tanaman bawang merah yang terendam banjir pada Sabtu (22/11) lalu.

Sekretaris Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Juwari, Minggu (23/11), mengatakan, tanaman bawang merah yang sudah terendam lebih dari empat jam tidak akan bisa digunakan lagi sebagai benih. "Pasalnya, air yang masuk melalui rongga daun bawang akan merusak bagian dalam umbi tanaman ini. Walau dikeringkan, tanaman bawang merah tersebut hanya bisa dikonsumsi untuk sayuran saja," ujarnya, ketika ditemui di lokasi banjir, di Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.

Menurut Juwari, untuk satu hektar lahan bawang merah, membutuhkan sekitar 1,5 ton benih umbi atau empat kilogram benih biji. " Biasanya, petani menggunakan benih umbi yang diambil dari sebagian hasil panen dan disimpan selama tiga bulan di gudang," ucap Juwari, yang juga selaku Kepala Desa Sidamulya.

Padahal di Kabupaten Brebes sendiri, lanjut Juwari, selain merendam 600 hektar lahan bawang merah di Kecamatan Wanasari, banjir juga merusak sekitar 60 hektar tanaman bawang merah yang terdapat di Desa Sengon dan Lemah Abang, Kecamatan Tanjung dan sekitar 55 hektar tanaman bawang merah di Desa Kemukten dan Limbangan, Kecamatan Kersana.

Oleh karena itu, menurut Juwari, ribuan petani di tiga Kecamatan ini setidaknya akan membutuhkan sekitar 1072,5 ton benih umbi untuk memulai musim tanam pada bulan April 2009 mendatang. "Musim tanam bawang tersebut dimulai setelah masa panen padi selesai," ucap Juwari.

Hingga Minggu siang, sebagian besar tanaman bawang merah yang terdapat di Kecamatan Wanasari masih terendam. Banjir tersebut membuat petani sibuk menyelamatkan tanamannya yang masih berusia sekitar 45-50 hari. "Setidaknya harus dikeringkan selama sepuluh hari dulu, kemudian langsung dijual ke pasar sebelum busuk semua," kata Jalal (27), petani bawang merah di Desa Sidamulya.

Kendati demikian, bawang merah yang telah dikeringkan tetap akan anjlok harganya. Washadi (55), petani lainnya, mengakui, hal itu karena bagian dalam tanaman bawang merah sudah mulai membusuk. "Laku dijual Rp 2.000 per kilogram saja sudah bersyukur," tuturnya.

Akibat tanamannya membusuk, petani tidak hanya kehilangan benih tetapi juga rugi belasan miliar rupiah. Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes Masrukhi Bachro mengatakan, kerugian yang diderita petani bawang merah diperkirakan mencapai Rp 18 juta Rp 20 juta per hektar. "Perkiraan itu didasarkan petani masih bisa menjual tanamannya dengan harga rendah," katanya.

Kepala Seksi Agribisnis Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Konservasi Tanah Brebes Gatot Rudiono mengakui, belum bisa menentukan jenis bantuan yang diberikan kepada petani bawang merah yang lahannya terendam banjir. "Hingga kini, masih kami inventarisasi luasan lahan yang terkena dampak banjir dan kerugian yang diderita. Senin ini akan kami bahas mengenai langkah-langkah penanggulangan," ucapnya.

Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Brebes Agus Sutrisno mengingatkan, agar Pemerintah Kabupaten Brebes segera bertindak nyata untuk membantu petani bawang merah yang merugi. "Kami siap mendukung dengan anggaran, jika pemerintah serius membuat program bantuan terutama untuk penyediaan benih," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau