Rangnick, Rahasia Lain Kesuksesan Hoffenheim (3-habis)

Kompas.com - 24/11/2008, 08:59 WIB

FENOMENA Hoffenheim ternyata bukan kejutan semata. Klub dari desa berpenduduk 3.300 orang itu benar-benar punya kualitas untuk juara. Faktanya, sampai pekan ke-14, mereka masih memimpin klasemen Bundesliga 1.

Kemenangan 3-1 di kandang FC Koeln menunjukkan Hoffenheim sukses bukan karena keberuntungan. Wajar jika pelatih Bayern Muenchen, Juergen Klinsmann mengtakan, "Jangan remehkan Hoffenheim. Mereka punya kemampuan dan modal cukup untuk juara."

Dan memang benar. Hoffenhaim begitu alot dan sulit dijungkalkan. Bahkan, di puncak klasemen, mereka kini unggul 3 poin atas Bayer Leverkusen dan Bayern Muenchen.

Semangat tinggi, didukung modal cukup dari pemilik klub Dietmar Hopp, belum cukup untuk sukses besar. Masih ada rahasia lain dari fenomena yang ditebar klub pedesaan tersebut. Rahasia itu tak lain ada dalam diri pelatih Ralf Rangnick. Dia tak hanya punya taktik dan strategi yang baik, tapi juga pendekatan yang bagus.

Sebagai pelatih, Rangnick sudah kenyang asam dan garam, meski tak pernah menangani klub besar. Dia mengawali karier sebagai pelatih tim amatir Stuttgart. Pengalaman pertama menjadi pelatih saat menangani SSV Ulm 1846 pada awal 1980-an.

Sejak itu, dia begitu intensif menjadi pelatih. Sempat kembali ke Stuttgart, dia kemudian melatih klub kecil lain, SSV Reutlingen pada 1995. Tahun 1997 dia kembali melatih SSV Ulm 1846. Dia berhasil membawa klub itu promosi ke Bundesliga 2.

Dianggap sukses, dia dipanggil Stuttgart lagi. Namun, dia dipecat pada 2001. Pindah ke Hannover, dia menunjukkan prestasi hebat. Dia membawa klub itu promosi ke Bundesliga 1 musim 2001-02.

Dia terus berpetualang, menangani Schalke 04, kemudian pindah ke Hoffenheim pada musim 2006-07. Klub amatir itu dia bawa promosi ke Bundesliga 2. Musim berikutnya, 2007-08, dia kembali membawa sukses, meloloskan Hoffenheim promosi ke Bundesliga 1 untuk pertama kali dalam sejarah mereka.

Ini prestasi luar biasa untuk klub yang berasal dari desa dengan penduduk 3.300 jiwa itu. Warga sudah mensyukurinya.. Namun, Rangnick belum cukup sampai di situ, dia kini membawa Hoffenheim memimpin klasemen dan bisa juara Bundesliga 1. Jika itu terjadi, maka akan terjadi sejarah besar di Hoffenheim.

Pengalaman segudang itu pula yang membuat Rangnick sering sukses menangani tim. Dalam sebuah wawancara dengan televisi, dia pernah begitu menggairahkan dan menarik memaparkan taktik dan strategi sepak bola. Itu sebabnya, dia kemudian dijuluki Profesor Sepak bola.

Soal strategi, dia begitu kaya dan fleksibel. "Kami terkadang memakai dua striker, tiba-tiba bisa memakai tiga striker. Itu bagian dari strategi pelatih dan sejauh ini baik-baik saja dan kami menjadi tim yang sangat produktif," jelas striker Vedad Ibisevic.

Memang, rangnick pintar meramu strategi. Dia seolah tahu, bagaimana menaklukkan lawan-lawan yang berbeda. Dia juga tak segan mengubah strategi di tengah permainan, jika dirasa permainan tim tak efektif.

Selain itu, ada pendekatan khas yang dilakukan Rangnick kepada pemainnya. Dia sering tiba-tiba mengajak para pemain menonton tinju atau anggar. Ini jelas untuk rekreasi, tapi menurutnya juga untuk mengembangkan imajinasi pemain.

Di saat akan menghadapi pertandingan penting lawan Wolfsburg, sehari sebelumnya dia mengajak para pemain bermain bowling. Dan, saat pertandingan para pemain tampil begitu segar, penuh semangat dan akhirnya menang.

Itu salah satu kelebihannya. Dia tak melulu menyuapi pemain dengan latihan fisik dan strategi, tapi juga memberi kesempatan berekreasi. (HPR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau