Kuwait Siap Bantu Pulangkan TKI Bermasalah

Kompas.com - 25/11/2008, 04:57 WIB

KUWAIT CITY, SENIN - Organisasi Tenaga Kerja Kuwait (Kuwait Union of Domestic Labor Offices, KUODLO) berjanji membantu pemulangan sekitar 380 tenaga kerja Indonesia (TKI) bermasalah yang saat ini ditampung di Kedutaan Besar RI di Kuwait.

"Kami siap membantu," kata Ketua  KUODLO Fadel Mohammed Al Sharaf dalam pertemuan dengan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat di Kuwait City, Kuwait, Senin malam hingga Selasa dinihari.

KUODLO merupakan organisasi yang menghimpun agen penempatan tenaga kerja asing di Kuwait. Dalam pertemuan tersebut Jumhur yang didampingi Deputi Kepala BNP2TKI Bidang Perlindungan Mardjono, Sekretaris Pertama Bidang Protokol dan Konsuler KBRI Kuwait dan Bahrain Dino Nurwahyudin, dan Atase Tenaga Kerja Wisantoro minta Fadel membantu menyelesaikan pemulangan TKI bermasalah.

Fadel yang juga memimpin perusahaan atau agen penempatan tenaga asing di Kuwait bernama Ashkanani mengatakan bahwa ia akan membantu KBRI untuk memulangkan TKI bermasalah.

"Kami bisa memulangkan mereka hingga tersisa 50 orang. Kalau perlu sisa mereka bisa ditampung di tempat saya sebelum dipulangkan," kata Fadel yang pernah memiliki balai latihan kerja calon TKI di kawasan Cikeas yang berlokasi dekat dengan kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia mengaku memiliki hubungan yang baik dengan pejabat dari berbagai instansi di pemerintahan Kuwait untuk memulangkan para TKI bermasalah. Bahkan, Fadel juga akan membantu para TKI bermasalah yang belum digaji oleh majikan mereka untuk bisa mendapat gaji.

Selain itu, Fadel juga akan membantu TKI bermasalah itu untuk mendapatkan asuransi. Sebelumnya dalam pertemuan Jumhur dan TKI bermasalah yang ditampung di KBRI, Dubes RI untuk Kuwait dan Bahrain mengatakan biaya untuk memberi makan para TKI yang ditampung itu mencapai sekitar Rp2 miliar per tahun.                    

Atase Tenaga Kerja Wisantoro menyebutkan permasalahan yang dihadapi TKI itu antara lain tidak betah karena majikan cerewet dan pekerjaan terlalu banyak, gaji tak dibayar, penganiayaan, perlakuan kasar, habis kontrak tidak dipulangkan, sakit, pelecehan seksual, dituduh mencuri, dan lain-lain.

Mereka belum bisa pulang ke tanah air karena tidak memiliki uang untuk membeli karcis pesawat, tidak ada paspor karena ditahan oleh bekas majikan, atau masa kerja yang belum berakhir sehingga pihak imigrasi Kuwait tidak mengizinkan mereka pulang.

Sebagian dari mereka telah menjalani masa penampungan di KBRI selama beberapa hari, minggu,  atau bulan tetapi ada di antara mereka yang telah berada di penampungan lebih dari satu tahun.

Wisantoro menyatakan bahwa penanganan TKI bermasalah itu menemui berbagai kendala seperti majikan yang tidak bersedia membayar gaji mereka, tidak bersedia datang ke KBRI untuk menyelesaikan masalah itu, atau pihak sponsor yang lepas tangan.

Sedangkan pemerintah Kuwait juga mengizinkan majikan "menjual" TKI kepada majikan lain sehingga mengakibatkan ada TKI yang memiliki banyak majikan dan tidak diketahui lagi siapa yang mesti bertanggungjawab untuk memulangkan para TKI tersebut.

Sementara TKI yang tersandung masalah kriminal dan pernah ditangkap oleh polisi Kuwait bukannya dideportasi tetapi malah dikembalikan ke KBRI. Fadel mengatakan pihaknya selain akan membantu memulangkan TKI bermasalah itu juga akan membantu penempatan dan perlindungan TKI untuk bekerja di Kuwait.

Ia berharap pemerintah Indonesia memberikan jenis bantuan apa yang bisa dilakukan KUODLO agar TKI mendapat jaminan perlindungan yang baik selama bekerja di Kuwait. Jumhur berharap Fadel dapat memberikan bantuan hukum, pelayanan berbasis teknologi informasi sehingga dapat diketahui majikan tempat TKI bekerja, membantu pelayanan asuransi, perjalanan atau transportasi, dan pusat layanan panggilan (call center).

Untuk itu, katanya, BNP2TKI dan KBRI di Kuwait akan menyampaikan surat resmi kepada Fadel mengenai ketentuan pelayanan penempatan dan perlindungan TKI.Jumhur berharap peran Fadel dan organisasi KUODLO yang dipimpinnya bisa membantu mengatasi TKI bermasalah.

"Dengan demikian KBRI di Kuwait tidak hanya mengurusi soal TKI bermasalah melainkan bisa beralih pada kegiatan mempromosikan dan membuka peluang pasar tenaga kerja seluas-luasnya di Kuwait," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau