Pilpres 2009, PPP Tidak Mau Salah Langkah

Kompas.com - 25/11/2008, 14:26 WIB

JAKARTA, SELASA - Partai Persatuan Pembangunan pasang telinga untuk menentukan siapa calon presiden yang akan didukung dan diusungnya. PPP tidak ingin terburu-buru dan salah langkah dalam memberikan amanahnya.

"Kami ingin mendengarkan sejumlah tokoh yang telah mendeklarasi ingin maju dalam prilpres mendatang. Kami ingin mendengarkan Prabowo, Sutriesno Bachir, SBY, dll," ujar Ketua PPP, Suryadarma Ali, kepada wartawan seusai diskusi di Gedung Jakarta Media Center, Selasa (25/11).

PPP akan mempersiapkan nama bakal capres yang akan diusung. Oleh karena itu, Suryadarma belum dapat menyebutkan siapa saja calon yang akan diusung.

Pihaknya masih mengamati siapa yang telah memproklamirkan diri maju capres.Menurut dia, PPP masih berkonsentrasi pada pembenahan internal dlm rangka perolehan kuota 15 persen pada pemilu legeslatif. Berkoalisi atau mendukung partai itu, lanjutnya, memerlukan kalkulasi yang matang.

Pada kesempatan yang sama, Suryadarma juga mengklarifikasi rumor yang beredar bahwa PPP telah mendukung SBY sebagai bakal capres pada pemilu 2009. Menurut dia, sampai saat ini, PPP belum menunjuk seorang ataupun partai untuk berkoalisi.

"Memang ada anggapan PPP sudah menyatu pada salah satu kandidat. Itu sama sekali tidak benar. PPP belum mengusung partai manapun dan berkoalisi dengan partai manapun. PPP sampai sekarang masih sangat terbuka untuk berkoalisi atau mungkin saja dengan kandidat yang sudah muncul atau akan muncul," jelasnya.

Dia menuturkan PPP akan memberikan perhatian kepada capres yang memiliki program kesejahteraan rakyat yang bertumpu pembangunan perekonomian pedesaan. Sebab, kata dia, mayoritas penduduk berada di pedesaan, pengangguran juga ada di pedesaan, kantong-kantong kemiskinan ada di pedesaan, potensi-potensi ekonomi yang dapat dikembangkan juga ada di pedesaan.

"PPP mencari yang terbaik. Kalau dalam prinsip ajaran PPP, kita diminta mempertahankan yang lama, yang masih baik. Tetapi jangan segan-segan mengambil yang baru dan baik," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau