JAKARTA, SELASA - Partai Persatuan Pembangunan pasang telinga untuk menentukan siapa calon presiden yang akan didukung dan diusungnya. PPP tidak ingin terburu-buru dan salah langkah dalam memberikan amanahnya.
"Kami ingin mendengarkan sejumlah tokoh yang telah mendeklarasi ingin maju dalam prilpres mendatang. Kami ingin mendengarkan Prabowo, Sutriesno Bachir, SBY, dll," ujar Ketua PPP, Suryadarma Ali, kepada wartawan seusai diskusi di Gedung Jakarta Media Center, Selasa (25/11).
PPP akan mempersiapkan nama bakal capres yang akan diusung. Oleh karena itu, Suryadarma belum dapat menyebutkan siapa saja calon yang akan diusung.
Pihaknya masih mengamati siapa yang telah memproklamirkan diri maju capres.Menurut dia, PPP masih berkonsentrasi pada pembenahan internal dlm rangka perolehan kuota 15 persen pada pemilu legeslatif. Berkoalisi atau mendukung partai itu, lanjutnya, memerlukan kalkulasi yang matang.
Pada kesempatan yang sama, Suryadarma juga mengklarifikasi rumor yang beredar bahwa PPP telah mendukung SBY sebagai bakal capres pada pemilu 2009. Menurut dia, sampai saat ini, PPP belum menunjuk seorang ataupun partai untuk berkoalisi.
"Memang ada anggapan PPP sudah menyatu pada salah satu kandidat. Itu sama sekali tidak benar. PPP belum mengusung partai manapun dan berkoalisi dengan partai manapun. PPP sampai sekarang masih sangat terbuka untuk berkoalisi atau mungkin saja dengan kandidat yang sudah muncul atau akan muncul," jelasnya.
Dia menuturkan PPP akan memberikan perhatian kepada capres yang memiliki program kesejahteraan rakyat yang bertumpu pembangunan perekonomian pedesaan. Sebab, kata dia, mayoritas penduduk berada di pedesaan, pengangguran juga ada di pedesaan, kantong-kantong kemiskinan ada di pedesaan, potensi-potensi ekonomi yang dapat dikembangkan juga ada di pedesaan.
"PPP mencari yang terbaik. Kalau dalam prinsip ajaran PPP, kita diminta mempertahankan yang lama, yang masih baik. Tetapi jangan segan-segan mengambil yang baru dan baik," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang