JAKARTA, SELASA - Upaya pemerintah Indonesia untuk mendongkrak ekspor tenaga kerja profesional ke Amerika dan Kanada nampaknya berpeluang besar karena hingga tahun 2020 dua negara maju itu membutuhkan sekitar 1 juta orang suster atau perawat.
"Saya baru saja pulang dari Amerika, dan di sana mereka mengaku sangat membutuhkan tenaga perawat hingga jumlahnya satu juta orang sampai tahun 2020," kata Direktur Promosi BNP2TKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia), Endang Sulistyaningsih, di Jakarta, Selasa (25/11).
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa di Amerika dan Kanada, mayoritas penduduknya kini sudah berusia matang dan lanjut, sementara angka kelahiran secara nasional tergolong rendah.
"Mereka akan membutuhkan banyak tenaga suster atau ’care-worker’ yang setingkat di bawah perawat dan hanya perlu lulusan diploma 3, untuk merawat manula di rumah atau di rumah sakit," kata dia.
Ia memperkirakan bila pekerja migran profesional Indonesia bisa mengisi kebutuhan ini, maka kiriman uang tercatat yang dikirim pulang oleh pekerja migran bisa meningkat hingga sekitar 3-5 kali lipat daripada kiriman dari pekerja sektor informal, seperti penata laksana rumah tangga (PLRT).
"Saya tegaskan di sini bahwa peluang untuk pekerja migran Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal sangatlah besar, tapi hambatan terbesar tenaga kerja kita terletak di penguasaan Bahasa Inggris. Untuk soal ketekunan, keterampilan, dan kesopanan, tenaga kerja kita tidak kalah dengan pekerja migran dari negara lain," kata dia.