YOGYAKARTA, SELASA - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DIY, Sukamto mengatakan, meski tetap berpengaruh terhadap kondisi dunia usaha di Yogyakarta, krisis ekonomi global tidak akan sampai berdampak mematikan. Sebab, basis ekonomi DIY adalah ekonomi rakyat, yang didominasi para pelaku usaha menengah dan kecil.
"Krisis ekonomi dalam negeri tahun 1997 yang jauh lebih berat, usaha kecil dan menengah kita masih mampu bertahan, apalagi ini. Memang ada pengaruh tetapi itu tidak terlalu berarti dampaknya," ucap Sukamto, Selasa (25/11) di Yogyakarta.
Untuk mengatasi dampak negatif krisis ekonomi global, pelaku usaha harus pandai menciptakan pasar alternatif. Negara tujuan ekspor jangan hanya ke Amerika Serikat, namun negara-negara lain yang potensial juga harus digarap. Di sisi lain, pasar dalam negeri perlu lebih dioptimalkan dengan dibantu promosi cinta produk dalam negeri oleh pemerintah. Misalnya, tujuan ekspor bisa dialihkan ke Timur Tengah. "Kita harus pintar-pintar mempromosikan produk epada negara-negara lain," ucapnya.
Menurut Sukamto, melambungnya nilai dollar terhadap rupiah yang kini sudah di atas Rp 12.000 adalah peluang emas bagi para eksportir. Dengan kurs tersebut, eksportir justru bisa mengeruk keuntungan lebih besar jika mampu menggarap pasar dengan lebih baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang