Susy: Demi Bulutangkis, Kami Pertahankan Astec Terbuka

Kompas.com - 25/11/2008, 21:19 WIB

JAKARTA, SELASA - Ketua Panitia Penyelenggara turnamen bulutangkis Astec Terbuka, Susy Susanti, menyatakan komitmennya untuk mempertahankan turnamen itu. Menurutnya, Astec Terbuka merupakan salah satu usaha memassalkan bulutangkis.

"Mudah-mudahan di masa yang akan datang bisa masuk kalender BWF (Federasi Bulutangkis Dunia), karena dengan begitu pesertanya bisa semakin banyak dan mendunia," katanya di Hall Bulutangkis Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (25/11).

Ia mengatakan, dengan semakin banyaknya turnamen, diharapkan cabang bulutangkis semakin populer dan digemari masyarakat luas. Dia juga menyampaikan kekhawatirannya bahwa cabang bulutangkis terancam dicoret dari Olimpiade 2016.

"Harapannya kalau bulutangkis semakin dikembangkan, IOC (Komite Olimpiade Internasional) akan mempertimbangkan bahwa bulutangkis adalah cabang yang diminati," katanya.

"Biar bagaimana pun, baru bulutangkis yang bisa menyumbang medali emas Olimpiade bagi Indonesia, jadi sayang kalau sampai tidak dipertandingkan lagi," ujar peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 tersebut.

Soal Astec Terbuka yang sudah digelar sejak 2005, Susy mengaku puas karena meskipun waktu penyelenggaraan menjadi sembilan hari karena peserta yang membludak, turnamen berlangsung lancar.

Turnamen kali ini diikuti lebih dari 1.800 peserta yang hampir sepertiganya adalah anak-anak. "Itu bagus karena semuanya memang dimulai dari anak-anak," kata Susy.

Hal itu pula yang menyebabkan ia akan tetap mempertandingkan kelompok anak-anak setelah turnamennya masuk kelender BWF kelak. "Saya tidak mungkin meninggalkan anak-anak," katanya seraya menambahkan bahwa dari sana awal munculnya bibit-bibit pemain.

Jaya Raya panen

Klub Jaya Raya panen gelar dengan memenangi enam dari 12 gelar yang diperebutkan dalam tiga kelompok remaja, taruna dan dewasa.

Pada kelompok remaja, klub tersebut menyapu keempat nomor yang dipertandingkan, ditambah kemenangan Bellaetrix Manuputy dan Adi Pratama pada tunggal putri dan putra dewasa, menggenapi kejayaan klub asal Jakarta itu.

Bella yang baru kembali dari Malaysia untuk mengikuti turnamen Malaysia International Challange, memenangi gelar tunggal putri dewasa dengan mengalahkan Maria Elfira dari Klub Djarum Kudus, 24-22 15-21 21-16.

Begitu pula Adi Pratama yang akhir bulan lalu memperkuat tim Indonesia pada Kejuaraan Dunia Junior di India, menjadi juara tunggal putra dengan mengungguli pemain veteran Budi Santoso 21-13 22-20.

Pasangan Djarum Kudus Meiliana Jauhari/Shendy Puspa meraih mahkota juara ganda putri dewasa setelah pada final menang atas pasangan Mutiara Bandung, Ayu Rahmasari/Dwi Agustiawati 21-11 21-17.

Adapun juara ganda putra dewasa dimenangi pasangan Andika Anhar/Ujang Suherlan dari SGS Elektrik Bandung dengan kemenangan 21-13 21-18.

Selain mendapat hadiah piala dan uang pembinaan total sebenar Rp 125 juta, para pemenang juga mendapat hadiah peralatan olahraga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau