TKI di Hongkong dan Taiwan Juga Terancam

Kompas.com - 26/11/2008, 08:21 WIB

JAKARTA, RABU — Gelombang pemulangan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri bakal semakin membesar. Setelah Malaysia, pemerintah memastikan TKI di Taiwan dan Hongkong juga akan terpaksa "mudik" sebelum Lebaran tiba. Inilah bukti betapa ganasnya badai keuangan global saat ini.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Soeparno menjelaskan, TKI yang dipulangkan terutama pekerja di sektor manufaktur. "Berapa jumlahnya jangan tanya sekarang," ucap Erman, Selasa (25/11).

Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), keberangkatan TKI sepanjang 1994-April 2008 mencapai 5,8 juta. Sebagian besar mereka bekerja di Malaysia dan Timur Tengah. Lalu, sekitar 125.000 TKI bekerja di Taiwan dan 120.000 di Hongkong. Hampir 60 persen di antara mereka bekerja di pabrik-pabrik.

Menurut Menaker, sejauh ini nasib TKI di Jepang, Brunei Darussalam, dan Timur Tengah masih aman. Walau demikian, pemerintah tetap mengantisipasi pemulangan TKI ini. Sejak bulan lalu Erman mengaku sudah menjalin komunikasi dengan Kedutaan Besar Indonesia, khususnya di negara penampung TKI. "Kami meminta agar pemulangan TKI jangan dilakukan secara berbarengan," katanya.

Langkah selanjutnya, pemerintah akan membuat program padat karya untuk mempekerjakan buruh migran ini. Direktur Penempatan TKI Depnakertrans Abdul Malik Harahap menjelaskan, program padat karya itu seperti pelatihan keterampilan pembuatan tahu dan tempe, kerajinan tangan, atau membuat perkakas rumah tangga. Cuma, Harahap tak bisa memastikan apakah program ini bakal diminati oleh mantan TKI itu.

Mencari ladang baru

Berbeda dengan Depnakertrans, BNP2TKI akan mencari cara lain. Lembaga ini akan mencari pekerjaan baru bagi TKI di sektor-sektor yang kebal dari krisis keuangan global, seperti perawat panti jompo, perawat orang cacat, baby sitter, atau menjadi pemandu wisata.

Namun, Direktur Promosi BNP2TKI Endang Sulistyaningsih mengingatkan, bidang pekerjaan baru ini hanya cocok bagi TKI yang sebelumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. "Memang agak susah dari pekerja di perkebunan jadi perawat atau jadi tour guide," tukas Endang.

Selain itu, BNP2TKI secara bertahap mengurangi penempatan tenaga kerja di negara-negara tradisional, seperti Malaysia, Arab Saudi, Hongkong, Singapura, dan Taiwan. Lembaga ini akan menempatkan TKI ke Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, dan negara-negara Uni Eropa sebagai pasar potensial.

Alasannya karena permintaan tenaga perawat di negara-negara tersebut masih cukup besar. Dia mencontohkan, Amerika Serikat dan Kanada butuh sekitar 1 juta perawat sampai dengan 2020 nanti.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau