JAKARTA, KAMIS - Pertumbuhan ekonomi 2009 diprediksi di bawah 6 persen, pemerintah diimbau untuk optimistis sekaligus realistis. Perkiraan itu memang mengesankan optimisme tapi tak didukung oleh fakta dan kebijakan agar optimisme itu terealisasi.
Demikian dikatakan Ketua Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramli di sela jumpa pers di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (26/11). "Seharusnya pemerintah mengupayakan bagaimana ke depan, perekonomian mengalami soft landing, ibaratnya jatuh tapi tak terlalu keras. Syaratnya cuma satu, jangan lagi memakai penyelesaian seperti tahun lalu misalnya dengan mengetatkan likuiditas, menaikkan suku bunga," kata Rizal.
Cara yang dipakai pemerintah untuk mengatasi krisis, menurut Rizal, sejauh ini masih mengakomodir cara untuk menyelesaikan krisis pada tahun 1998 yang terbukti lambat mengatasi dampak krisis. Menurut Rizal, pertumbuhan ekonomi yang realistis tahun depan mencapai 3-4 persen.
"Dari tiga motor pertumbuhan ekonomi seperti investasi, ekspor dan konsumsi masyarakat sudah terlihat. Pertama, dalam investasi saat ini modal asing semuanya 'pulang kampung', maka diproyeksikan ke depan investasi dalam dan luar negeri pasti berhenti," tutur Rizal.
Kedua, ekspor diperkirakan akan turun, seiring dengan anjloknya komoditi saat ini yang mencapai 40 persen. Ketiga, konsumsi masyarakat yang rendah karena daya beli masyarakat yang akan turun tahun depan sejalan dengan PHK yang akan terjadi. "Satu-satunya yang bisa diharapkan adalah goverment spending, tapi ternyata nilainya juga terbatas, karena tahun depan penerimaan dari pajak akan berkurang. Jadi empat motor penggerak perekonomian itu tidak jalan tahun depan, maka perlu adanya terobosan baru," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang