JAKARTA, KAMIS - Sektor riil membutuhkan stimulus fiskal dan moneter agar bisa bertahan dalam masa krisis sekaligus tetap menjadi penopang pendapatan rumah tangga. Salah satu cara yang paling efektif dari sisi moneter untuk menstimulus sektor riil adalah menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate.
Demikian terungkap dalam diskusi ”Krisis Finansial, Kontestasi Politik dan Prospek Ekonomi 2009” yang diselenggarakan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rabu (26/11) di Jakarta.
Ekonom Senior Indef Mohamad Ikhsan Modjo dalam paparannya menjelaskan, dalam situasi krisis seperti saat ini, kebijakan moneter seharusnya lebih ditujukan untuk mendorong pertumbuhan dan memperluas kesempatan kerja.
Menurut dia, kebijakan moneter yang ditujukan semata untuk mengendalikan harga atau inflasi tidak lagi efektif, terlebih saat krisis saat ini.
Seperti diinformasikan, sejak krisis menyergap pasar keuangan global dan domestik, Bank Indonesia hingga kini masih belum menerapkan kebijakan moneter longgar, sebagaimana tecermin pada BI Rate.
Pada rapat dewan gubernur BI pada awal November 2008, BI hanya menahan BI Rate di level 9,5 persen.
Kebijakan BI tersebut dimaksudkan untuk menjaga ekspektasi inflasi dan meredam pelemahan nilai tukar. Namun, dalam sebulan terakhir, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS merupakan yang terburuk di kawasan regional.
Tekanan inflasi
Pengamat moneter Iman Sugema menjelaskan, dalam situasi krisis, sebaiknya BI Rate diturunkan mengingat tekanan inflasi ke depan akan berkurang seiring melambatnya perekonomian. Penurunan BI Rate justru bisa menahan jatuhnya perekonomian secara tajam.
BI Rate yang rendah akan membuat suku bunga kredit menurun sehingga menjadi stimulus bagi kegiatan sektor riil. Suku bunga yang rendah juga mengurangi risiko kredit bermasalah dan beban pemerintah membayar bunga utang dalam negeri.
Dalam masa krisis ini, sebagian besar negara mengambil kebijakan menurunkan suku bunga acuan. Suku bunga acuan di China, misalnya, telah turun 54 basis poin (bp) menjadi 6,66 persen dalam dua bulan terakhir.
Bank Sentral AS telah menurunkan suku bunganya 100 bp menjadi 1 persen. Bahkan, suku bunga acuan di Hongkong turun 200 bp menjadi 1,5 persen dalam dua bulan terakhir.
Penurunan suku bunga acuan juga dilakukan Taiwan, Singapura, Korea, India, dan Vietnam. Adapun dalam dua bulan terakhir, BI Rate justru naik 25 bp menjadi 9,5 persen.
Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono mengatakan, kebijakan moneter BI dengan negara lain agak berbeda karena situasinya juga berbeda. Perbedaan utamanya adalah inflasi Indonesia masih berada pada level yang tinggi meski telah cenderung turun.
Selain itu, pelemahan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak seburuk negara lain. Itu terlihat pada pertumbuhan kredit tahun 2008 yang mencapai 35 persen.
”Ini berbeda dengan negara lain yang pemburukan pertumbuhan ekonominya sangat drastis, sementara tekanan inflasi sudah cenderung turun,” katanya.
Tingginya BI Rate dan keringnya likuiditas telah mendorong suku bunga kredit naik dalam dua bulan terakhir. Suku bunga kredit pemilikan rumah, misalnya, telah naik 50 persen dari rata-rata 10 persen menjadi 15 persen per tahun. Sektor riil semakin tercekik oleh tingginya suku bunga kredit.