Semangat penca luar biasa

"Down Syndrome" Harus Diberi Peluang

Kompas.com - 27/11/2008, 15:41 WIB

Oleh: Maria Serenade S

SURABAYA, KOMPAS - Sebanyak 230 penyandang cacat menunjukkan semangat luar biasa pada final atletik Piala BPOC-KONI di Lapangan KONI Jawa Timur, Rabu (26/11). Mereka membuktikan diri mampu berprestasi di bidang olahraga.

Indra (13), pemenang lomba lari 50 meter tunanetra, menyelesaikan lintasan dalam waktu 11,85 detik. Siswa YPAB Surabaya ini memimpin sejak peluit dibunyikan dan berhasil berlari lurus tanpa keluar dari garis. "Saya sebenarnya takut, tetapi percaya saja dan lari secepatnya," ujarnya, Rabu (26/11).

Kaspin (13), yang berada di posisi buncit, juga menunjukkan kesungguhan untuk tiba di finis. Siswa yang mengalami kebutaan total ini tiba terakhir dengan waktu 16,03 detik.

Acara yang diselenggarakan sejak pukul 08.00 itu mempertandingkan nomor lari jarak 50 meter dan 100 meter, lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru, dan lompat jauh.

Perjuangan sulit tampak dialami penyandang tunanetra yang mengikuti lempar lembing. Mereka kesulitan menancapkan lembing. Bahkan, seorang peserta justru melempar lembing ke belakang.

Meskipun demikian, para peserta dari 45 sekolah luar biasa (SLB) se-Surabaya ini menuntaskan semua laga. "Ini di luar bayangan kami. Mereka mampu kalau diberi peluang, bahkan untuk lempar lembing yang termasuk olahraga sulit," ujar Ketua Panitia Piala BPOC-KONI Budi Haryono.

Dari nomor tolak peluru, peserta tunagrahita juga berusaha maksimal meskipun penguasaan teknik belum maksimal. Pembimbing murid dari SMPLB Karya Asih Titik mengatakan, olahraga menjadi bagian pelajaran di sekolah. "Atletik termasuk olahraga yang diminati anak- anak. Memang belum maksimal, tetapi kalau dilatih terus bisa semakin baik," katanya.

Selain atletik, catur dan tenis meja juga dipertandingkan. Namun, atletik memang diproyeksikan menjadi olahraga unggulan.

"Dari ajang ini, kami akan melihat siapa saja yang memang berpotensi di atletik. Mereka akan bergabung di puslatcab dan dilatih intensif," ujar Ketua Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Surabaya Kasmin.

Piala BPOC-KONI, Kasmin melanjutkan, dapat menjadi wadah untuk menyaring bibit atlet untuk Pekan Olahraga Pelajar Cacat Nasional maupun Pekan Olahraga Cacat Nasional.

Pertama kali

Piala ini diikuti peserta tunanetra, tunarungu-wicara, tunagrahita, tunadaksa, autis, dan down syndrome. Meskipun bergulir setiap tahun, baru tahun ini penyandang down syndrome juga dilibatkan menjadi peserta.

Menurut koordinator acara, Warno, sebanyak sembilan peserta down syndrome mengikuti ajang ini. "Kami ingin memberi peluang bagi mereka karena mereka umumnya tidak terwadahi di beberapa kompetisi olahraga. Padahal, mereka juga perlu ruang," ujarnya.

Salah satu ajang nasional bagi penyandang cacat tingkat nasional, Special Olympic Indonesia, juga kurang memberi perhatian kepada penderita down syndrome.

Karena itu, dalam ajang ini, semua nomor memberi peluang bagi peserta down syndrome. Olahraga bagi penyandang cacat, Warno melanjutkan, juga bisa ditujukan untuk menggapai prestasi terbaik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau