Oleh: Maria Serenade S
SURABAYA, KOMPAS - Sebanyak 230 penyandang cacat menunjukkan semangat luar biasa pada final atletik Piala BPOC-KONI di Lapangan KONI Jawa Timur, Rabu (26/11). Mereka membuktikan diri mampu berprestasi di bidang olahraga.
Indra (13), pemenang lomba lari 50 meter tunanetra, menyelesaikan lintasan dalam waktu 11,85 detik. Siswa YPAB Surabaya ini memimpin sejak peluit dibunyikan dan berhasil berlari lurus tanpa keluar dari garis. "Saya sebenarnya takut, tetapi percaya saja dan lari secepatnya," ujarnya, Rabu (26/11).
Kaspin (13), yang berada di posisi buncit, juga menunjukkan kesungguhan untuk tiba di finis. Siswa yang mengalami kebutaan total ini tiba terakhir dengan waktu 16,03 detik.
Acara yang diselenggarakan sejak pukul 08.00 itu mempertandingkan nomor lari jarak 50 meter dan 100 meter, lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru, dan lompat jauh.
Perjuangan sulit tampak dialami penyandang tunanetra yang mengikuti lempar lembing. Mereka kesulitan menancapkan lembing. Bahkan, seorang peserta justru melempar lembing ke belakang.
Meskipun demikian, para peserta dari 45 sekolah luar biasa (SLB) se-Surabaya ini menuntaskan semua laga. "Ini di luar bayangan kami. Mereka mampu kalau diberi peluang, bahkan untuk lempar lembing yang termasuk olahraga sulit," ujar Ketua Panitia Piala BPOC-KONI Budi Haryono.
Dari nomor tolak peluru, peserta tunagrahita juga berusaha maksimal meskipun penguasaan teknik belum maksimal. Pembimbing murid dari SMPLB Karya Asih Titik mengatakan, olahraga menjadi bagian pelajaran di sekolah. "Atletik termasuk olahraga yang diminati anak- anak. Memang belum maksimal, tetapi kalau dilatih terus bisa semakin baik," katanya.
Selain atletik, catur dan tenis meja juga dipertandingkan. Namun, atletik memang diproyeksikan menjadi olahraga unggulan.
"Dari ajang ini, kami akan melihat siapa saja yang memang berpotensi di atletik. Mereka akan bergabung di puslatcab dan dilatih intensif," ujar Ketua Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Surabaya Kasmin.
Piala BPOC-KONI, Kasmin melanjutkan, dapat menjadi wadah untuk menyaring bibit atlet untuk Pekan Olahraga Pelajar Cacat Nasional maupun Pekan Olahraga Cacat Nasional.
Pertama kali
Piala ini diikuti peserta tunanetra, tunarungu-wicara, tunagrahita, tunadaksa, autis, dan down syndrome. Meskipun bergulir setiap tahun, baru tahun ini penyandang down syndrome juga dilibatkan menjadi peserta.
Menurut koordinator acara, Warno, sebanyak sembilan peserta down syndrome mengikuti ajang ini. "Kami ingin memberi peluang bagi mereka karena mereka umumnya tidak terwadahi di beberapa kompetisi olahraga. Padahal, mereka juga perlu ruang," ujarnya.
Salah satu ajang nasional bagi penyandang cacat tingkat nasional, Special Olympic Indonesia, juga kurang memberi perhatian kepada penderita down syndrome.
Karena itu, dalam ajang ini, semua nomor memberi peluang bagi peserta down syndrome. Olahraga bagi penyandang cacat, Warno melanjutkan, juga bisa ditujukan untuk menggapai prestasi terbaik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang