Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto
BOJONEGORO, KAMIS - Kelangkaan pupuk membuat para petani di sejumlah daerah panik. Selain ramai-ramai mendatangi kios atau distributor pupuk para petani juga nekad menghentikan truk pengangkut pupuk jatah untuk desa lain.
Pada Kamis (27/11) ratusan orang terdiri dari petani, tukang ojek, tukang becak di Desa Sumberejo, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro menghentikan truk mengangkut 10 ton pupuk Urea di jalan raya depan pasart Sumberjo. Sehaharusnya pupuk tersebut ja tah untuk Desa Tlogoagung Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro.
Akibat petani memaksa pupuk diturunkan dan berebut membeli pupuk bersubsidi dengan harga Rp 60.000 per zak isi 50 kilogram, jalur Bojonegoro-Babat di Sumberejo macet. Petani Kedungadem sebelumnya menduduki balai desa menuntut agar pupuk segera dicairkan.
Sehari sebelumnya ratusan warga Dusun Bogor, Desa Bektiharjo dan Dusun Mojo Kopek, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban mendatangi kantor yang sekaligus gudang milik distributor Fimaco di Jalan Wahidin Sudiro Husodo Kota Tuban. Mere ka datang dengan 17 truk dan 9 pikap, datang untuk membeli pupuk bukan berdemonstrasi.
Mereka bersedia membeli dengan harga berapa pun kalau barangnya ada, meskipun berharap kalau bisa dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET). Tanaman jagung warga sudah 1,5 bulan tidak dipupuk paahal harga benihnya Rp 65.000 per kilogram. Ratusan hektar t anaman jagung terancam mati.
Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Jawa Timur, sekaligus Ketua KTNA Bojonegoro, Syarif Usman mengatakan saat ini petani panik karena mendengar isu pemerintah hanya mendapat jatah Urea 48 kilogram per hektar. Sementara bila tanaman tidak mendapatkan p upuk yang cukup, bisa mengancam produksi turun bahkan gagal panen.
Kebutuhan petani tidak bisa dibendung, mereka hanya mengandalkan pertanian untuk biaya hidup dan menyekolahkan anak, kalau tidak panen bagaimana. "Oleh karena itu pemerintah harus mengambil langkah, dengan menarik jatah pupuk 2009 dialokasikan untuk 2008. tetapi jatah 2009 harus dibicarakan lagi dan dipenuhi, karena pemerintah harus bertanggung jawab, mayoritas warga masih hidup dari bertani," kata Syarif.
Syarif juga meminta ada atensi khusus dari Kepala kepolisian RI untuk mengintruksikan jajaran di bawahnya mengambil langkah terhadap penyimpangan pupuk khususnya menyangkut distribusi. Kelangkaaan pupuk saat ini lebih mengkhawatirkan dari perjudian karena bisa memicu konflik horizontal, antara petani yang butuh pupuk.
Kios dan distributor yang menjual di atas HET yang ditetapkan pemerintah harus ditindak tegas. Saat ini harga Urea bersubsidi di Kanor dan Kepohbaru Bojonegoro tembus Rp 200.000 per zak isi 50 kilogram. "Ini terjadi karena petani panik sehingga berapa pu n akan dibeli," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang