Penanggulangan HIV/AIDS Makin Sulit

Kompas.com - 27/11/2008, 20:14 WIB

JAKARTA, KAMIS - Penanggulangan HIV/AIDS yang dilakukan saat ini mengalami hambatan karena adanya pelarangan lokalisasi di beberapa wilayah. Bahkan pembubaran lokalisasi menyebabkan pekerja seks berada di jalanan, ini berakibat makin sulitnya penanganan HIV/AIDS.

"Infeksi Menular Seksual dan HIV semakin sulit dikontrol kalau wanita penjaja seks turun ke jalan-jalan," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Nafsiah Mboi di Jakarta, Kamis (27/11).

Kebijakan pembubaran lokalisasi ini dikhawatirkan akan mempertinggi proses penularan HIV ke masyarakat umum. "Ini karena masih kurangnya kesadaran pelanggan seks komersial menggunakan kondom. Padahal ada sekitar tujuh juta pelanggan yang juga bisa menular ke istri dan anak," kata Nafasiah.

Nafsiah menambahkan, jika pekerja seks komersial terlokalisir maka pelaksanaan pengobatan untuk Infeksi Menular Seksual dan HIV menjadi lebih mudah dilakukan, penyediaan kondom juga lebih mudah daripada tersebar ke jalan-jalan atau ke rumah-rumah.

"Seperti di Jawa Barat yang di rumah-rumah itu setengah mati pelayanan untuk pengobatannya. Nah, kalau mereka komit untuk sehat dan kompak mengatakan kepada pelanggannya 'No Condom, No Sex' itu bagus. Tapi biasanya pelanggan tidak mau memakai kondom," kata Nafsiah.

Ranperda Papua

Nafsiah Mboi pun menyayangkan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Provinsi Papua yang akan memberi tanda khusus microchip bagi orang dengan HIV/AIDS.

Menurut Nafsiah, langkah itu sangat tidak manusiawi dan tidak sesuai dengan strategi nasional dan rencana aksi nasional penanggulangan HIV/AIDS. "Perda itu seharusnya menciptakan lingkungan yang kondusif dan memberdayakan masyarakat," kata Nafasiah.

Pemberian tanda khusus bagi orang dengan HIV/AIDS di Papua merupakan tindakan diskriminatif. "Kita tidak bisa membatalkan karena itu inisiatif DPRD. Sekarang pun masih dalam tahap pembahasan di Komisi. Jadi harus disandingkan dulu rancangan versi legislatif dan eksekutif serta harus ada dengar pendapat publik," kata Nafsiah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau