JAKARTA, KAMIS - Penanggulangan HIV/AIDS yang dilakukan saat ini mengalami hambatan karena adanya pelarangan lokalisasi di beberapa wilayah. Bahkan pembubaran lokalisasi menyebabkan pekerja seks berada di jalanan, ini berakibat makin sulitnya penanganan HIV/AIDS.
"Infeksi Menular Seksual dan HIV semakin sulit dikontrol kalau wanita penjaja seks turun ke jalan-jalan," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Nafsiah Mboi di Jakarta, Kamis (27/11).
Kebijakan pembubaran lokalisasi ini dikhawatirkan akan mempertinggi proses penularan HIV ke masyarakat umum. "Ini karena masih kurangnya kesadaran pelanggan seks komersial menggunakan kondom. Padahal ada sekitar tujuh juta pelanggan yang juga bisa menular ke istri dan anak," kata Nafasiah.
Nafsiah menambahkan, jika pekerja seks komersial terlokalisir maka pelaksanaan pengobatan untuk Infeksi Menular Seksual dan HIV menjadi lebih mudah dilakukan, penyediaan kondom juga lebih mudah daripada tersebar ke jalan-jalan atau ke rumah-rumah.
"Seperti di Jawa Barat yang di rumah-rumah itu setengah mati pelayanan untuk pengobatannya. Nah, kalau mereka komit untuk sehat dan kompak mengatakan kepada pelanggannya 'No Condom, No Sex' itu bagus. Tapi biasanya pelanggan tidak mau memakai kondom," kata Nafsiah.
Ranperda Papua
Nafsiah Mboi pun menyayangkan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Provinsi Papua yang akan memberi tanda khusus microchip bagi orang dengan HIV/AIDS.
Menurut Nafsiah, langkah itu sangat tidak manusiawi dan tidak sesuai dengan strategi nasional dan rencana aksi nasional penanggulangan HIV/AIDS. "Perda itu seharusnya menciptakan lingkungan yang kondusif dan memberdayakan masyarakat," kata Nafasiah.
Pemberian tanda khusus bagi orang dengan HIV/AIDS di Papua merupakan tindakan diskriminatif. "Kita tidak bisa membatalkan karena itu inisiatif DPRD. Sekarang pun masih dalam tahap pembahasan di Komisi. Jadi harus disandingkan dulu rancangan versi legislatif dan eksekutif serta harus ada dengar pendapat publik," kata Nafsiah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang