Dua mahasiswa dari Australia, David Coker (23) dan Katie Anstee (24), baru saja hendak menikmati liburan dan merayakan kelulusan mereka ketika rentetan tembakan senjata otomatis menerjang restoran Kafe Leopold. Tanpa menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba Anstee terjatuh di kursi. Pahanya berdarah akibat luka tertembus peluru tajam.
”Kami baru saja memesan makan dan minum, tiba-tiba ada suara seperti petasan. Suasana kacau karena orang-orang berteriak dan berlarian. Banyak yang jatuh ke lantai. Darah di mana- mana,” tutur Coker, yang terserempet peluru, kepada harian The Courier-Mail, Kamis (27/11).
Kafe yang terkenal di kalangan turis ransel (backpacker) asing itu diberondong senjata otomatis AK-47. Serentetan tembakan itu berasal dari mobil van polisi yang melintas dekat kafe. Saksi mata menuturkan, ada kelompok bersenjata yang membajak mobil polisi, yang menembaki kafe itu.
”Kami dengar ada mobil yang kencang larinya. Ternyata mobil polisi. Tetapi saya bingung, kok orang-orang di dalam mobil menembaki kami. Orang-orang lalu berteriak. Ada yang kehilangan jari-jarinya, tertembak di dada atau tangan. Darah di mana-mana,” kata Manish Tripathi.
Denyut jantung Mumbai, kota kelahiran perfilman India yang dikenal dengan Bollywood, terhenti. Serangan bersenjata tidak hanya terjadi di Kafe Leopold. Sepuluh lokasi berbeda di Mumbai diguncang ledakan dan serangan sejak Rabu malam. Peristiwa berdarah itu dimulai pukul 22.30 waktu setempat. Empat pria muda bercelana jins dan berkaus oblong memberondong kerumunan orang yang menunggu kereta api di stasiun KA Bombay, Chatrapati Shivaji, dengan senjata otomatis AK-47.
”Mereka masih sangat muda, seperti anak-anak. Saya berdiri agak di belakang mereka. Kalau saja mereka membalikkan badan, pasti saya juga kena tembak,” kata Inam, warga Mumbai.
Tak jauh dari stasiun KA itu— sekitar lima menit berkendara— sekelompok pria bertopeng dan bersenjata otomatis serta granat menyerang lobi dan restoran Hotel Taj Mahal Palace. Ratusan tamu panik dan langsung bersembunyi di bawah meja dan dapur hotel selama sekitar tujuh jam. Semua lampu dimatikan. Pintu dikunci dari dalam. Namun tetap saja ketahuan.
”Mereka mengincar orang asing karena yang dicari orang yang memegang paspor Inggris dan AS. Kami digiring ke atap. Tetapi saya berhasil lari lewat pintu darurat ketika sampai di lantai 18,” kata warga Inggris tamu di Hotel Taj, Rakesh Patel.
Warga Inggris di lokasi serangan lain, Hotel Oberoi/Trident, Alex Chamberlain, juga menuturkan sekelompok pria bersenjata tiba-tiba masuk dari restoran dan meminta semua orang angkat tangan. Sama seperti di Hotel Taj, mereka mencari warga Inggris dan AS. ”Ada teman yang minta saya tidak coba-coba jadi pahlawan dan mengaku orang Inggris. Akhirnya saya diam saja,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, kelompok bersenjata masih menyandera beberapa warga asing di Hotel Oberoi dan Hotel Taj Mahal. Situasi Hotel Taj semakin kacau ketika kelompok bersenjata terlibat baku tembak sengit dengan polisi India. Suara tembakan senjata otomatis dan ledakan granat terdengar silih berganti. Sebagian tamu diselamatkan melalui jendela dengan tangga pemadam kebakaran.
”Suara tembakan itu tadinya kami kira petasan. Ada pegawai hotel yang menyuruh pintu kamar dikunci dan semua lampu dimatikan,” kata Marilyn Ernsteen, warga AS, yang kemudian melarikan diri lewat tangga darurat dari lantai 4 hanya membawa dompet dan paspor.
Peristiwa berdarah di Mumbai yang kemudian disebut dengan ”9/11 ala India” itu tidak berhenti di situ. Di dekat bandara ada taksi yang diledakkan. ”Sangat mengerikan. Di mana- mana darah. Mumbai juga tidak aman,” kata Aguirre dari Spanyol. (REUTERS/AFP/AP/LUK)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang