Lagi, Truk Pupuk Dihadang

Kompas.com - 28/11/2008, 15:56 WIB

BOJONEGORO, JUMAT- Kelangkaan pupuk semakin membuat petani di Bojonegoro panik, sehingga aksi penghadangan truk-truk yang diduga mengangkut pupuk terus terjadi.

Hari Jumat (28/11) ini, ratusan orang menghentikan truk pengangkut pupuk di Desa Prayungan, Sumberrejo, dan Baureno. Di Desa Prayungan, Kecamatan Sumberejo, ada tiga truk pengangkut pupuk dihentikan di tepi jalan.

Sehari sebelumnya truk yang memuat 10 ton pupuk dicegat puluhan orang di depan pasar Sumberrejo. Seharusnya pupuk itu jatah untuk petani di Desa Tlogoagung, Kecamatan Kadungadem, yang memang benar-benar membutuhkan pupuk.

Abu Naim, Direktur UD Indonesia Subur (perusahaan distributor pupuk), menduga orang-orang yang mencegat dan memaksa pupuk diturunkan lalu jadi rebutan itu adalah para tengkulak gelap bergaya preman. Mereka ingin mengambil keuntungan dari petani yang meman g benar-benar membutuhkan pupuk.

Menurut Abu, orang-orang tidak bertanggung jawab itu justru merusak distribusi pupuk. Mereka menamakan diri petani tetapi setiap hari berprofesi sebagai tukang ojek maupun tukang becak yang sepi. Bahkan ada beberapa orang dari luar Bojonegoro. Setelah mendapatkan pupuk, mereka menjual lagi hingga harganya dua kali lipat, dan tidak dipakai sendiri.

Setidaknya itu terbukti dari kasus perebutan pupuk di Sumberejo. Mereka yang ikut berebut membeli Rp 60.000 per zak, tetapi ada juga yang mengambil tanpa membayar. "Distributor kami merugi hingga mencapai Rp 1,6 juta," tuturnya.

Sementara pada penghadangan pupuk Jumat ini, Abu meminta bantuan polisi untuk pengamanan. Sekitar 300 orang yang menghentikan truk pengangkut pupuk akhirnya bubar. Ada yang lari ke arah Baureno, ada yang ke arah Kapas. "Ini membuktikan kalau mereka bukan petani yang butuh pupuk, tetapi ingin menjarah," katanya.

Selain itu demi keamanan pupuk yang seharusnya didistribusikan ke wilayah Kedungadem, Sekar, Kanor, dan sejumlah wilayah dihentikan diturunkan di lokasi terdekat seperti di Sratu dan Blongsong. Sebenarnya, para kepala desa dan kelompok tani telah sepakat, distribusi pupuk diawasi pihak kecamatan dan desa.  

Tetapi kelangkaan pupuk ini ada yang memanfaatkan dengan membuat distribusi kacau. Mereka memanfaatkan petani yang memang benar-benar butuh. "Padahal kami sudah punya jadwal hari ini desa-desa yang mana yang akan dikirimi pupuk. Kalau begini kan malah kasihan petani, pupuk tidak segera terkirim karena ada penghadangan dari orang tidak bertanggung jawab," paparnya

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bojonegoro Ajun Komisaris Setyo K Hendriyatno mengatakan, polisi siap mengamankan dan mengawal pupuk sampai ke petani. "Kami akan kawal agar tidak terjadi penjarahan dan pupuk sampai ke petani sesuai tuj uan distribusinya," kata Setyo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau