Presiden India Tetap Berkunjung ke Indonesia

Kompas.com - 28/11/2008, 17:22 WIB

JAKARTA, JUMAT - Di tengah serangan teroris yang melanda Kota Mumbai, India, Presiden India Pratibha Devisingh Patil, tetap melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.

Menurut siaran pers dari staf khusus Kepresidenan bidang hubungan luar negeri, Dino Pati Djalal, yang diterima Antara di Jakarta, Jumat (28/11), Presiden Republik India akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 28 November hingga 3 Desember 2008.

Ketika serangan teroris di Mumbai terjadi, Presiden Prabibha Devisingh Patil tengah melakukan kunjungan kenegaraan di Vietnam pada 24-27 November 2008. Presiden Patil baru pertama kali mengunjungi Indonesia setelah kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke New Delhi November 2005.

Presiden Patil akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Yudhoyono pada Senin, 1 Desember 2008, untuk membahas sejumlah hal terkait hubungan bilateral kedua negara, juga berbagai isu regional yang menjadi kepentingan bersama. Pertemuan kedua kepala negara tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan dan kerja sama RI dengan India terutama di bidang politik, ekonomi, perdagangan, investasi dan pariwisata.

Oleh karena itu kedua Kepala Negara dijadwalkan menyaksikan penandatanganan empat Nota Kesepahaman (MoU) di bidang kerja sama Pemuda dan Olah Raga, Minyak dan Gas, Pertanian, serta Program Pertukaran Pendidikan. Turut menyertai kunjungan Presiden India adalah 20 orang delegasi resmi ditambah dengan wartawan dan staf pendukung lainnya.

Indonesia dan India memiliki hubungan sejarah yang panjang, yang dimulai sejak berabad-abad lampau ketika pengaruh budaya dan agama dari India masuk ke bumi Nusantara. Pada tahun 1951, Indonesia dan India menandatangani Perjanjian Persahabatan sebagai langkah awal membina hubungan persahabatan kedua negara dan pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955, India merupakan salah satu negara co-sponsor dari pertemuan yang sangat bersejarah tersebut.

Upaya memelihara dan meningkatkan hubungan baik kedua negara dan bangsa mencatat babak baru melalui kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke India November 2005. Pada kunjungan tersebut, kedua negara sepakat untuk membentuk New Strategic Partnership (Strategi Kemitraan Baru) guna mempelajari dan mewujudkan potensi kerjasama menjadi realita yang saling menguntungkan.

Di bidang ekonomi, nilai investasi India di Indonesia pada tahun 2007 bernilai 96,5 miliar dolar AS pada 44 proyek di berbagai sektor seperti tekstil, otomotif dan jasa.

Sementara itu, menurut data Departemen Perdagangan volume perdagangan bilateral tahun 2007 mencapai lebih dari 6,55 miliar dolar AS atau naik dari tahun 2006 yang tercatat sekitar 4,80 miliar dolar AS. Sedangkan volume perdagangan tahun 2008, antara bulan Januari-Juni, dilaporkan sudah mencapai 5,02 miliar dolar AS. Pada tahun 2005, Kepala Pemerintahan kedua negara sepakat menargetkan volume perdagangan ke angka 10 miliar dolar AS pada tahun 2010. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau