Setelah DKK, Yunita Berharap Dibantu Jamkesmas

Kompas.com - 28/11/2008, 18:31 WIB

YOSEPH Risanto Babo (24) dan Ny Domitila Gaa tak dapat menutupi rasa harunya ketika mereka menginjakkan kaki di Bandar Udara Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/11), pekan lalu. Pasangan dari Dusun Boa, Desa Wolokaro, Kecamatan Ende, itu amat senang, karena kedatangan mereka kembali ke Ende dengan kondisi fisik Yunita Soga, buah hati tercinta, sudah dalam keadaan lebih baik.

Cacat fisik pada diri Yunita yang tak memiliki dubur telah diatasi sementara dengan kolostomi, pembuatan saluran pada usus besar lewat perut untuk pembuangan tinja dan kotorannya.

Yoseph dan Ny Domitila yang hanya petani kecil itu dapat membawa Yunita ke Jakarta untuk dioperasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Semua itu dilakukan bukan dengan dana sendiri, melainkan bantuan dari para pembaca Kompas yang dihimpun lewat Dana Kemanusiaan Kompas (DKK).   

DKK yang merupakan kontribusi dari para pembaca harian Kompas untuk keperluan operasi Yunita itu membantu semua biaya transportasi pergi-pulang (PP) Ende-Jakarta, akomodasi untuk penginapan, hingga seluruh biaya perawatan, pengobatan, dan operasi di rumah sakit.

Yoseph dan Domitila bersama Yunita menuju Jakarta pada akhir September 2008 lalu. Ada pun biaya yang telah dikeluarkan untuk kepentingan operasi Yunita itu sedikitnya Rp 28 juta.  

“Yang patut disyukuri operasi tahap pertama untuk kolostomi berjalan lancar. Yunita masih perlu menjalani lagi operasi dua tahap, yaitu untuk menutup kembali lubang kolostomi, dan membuat saluran anus,” kata staf Dana Kemanusiaan Kompas Winarto Siswohadidjojo yang mengantar mereka dari Jakarta ke Ende. 

Menurut Winarto, dari rencana semula bantuan DKK difokuskan untuk memberikan pertolongan awal pada Yunita supaya tidak mengalami dampak buruk dari kelainan dubur tersebut.

Dengan demikian, bantuan DKK bagi Yunita disalurkan hanya untuk operasi tahap pertama, yakni pembuatan kolostomi. Untuk tahap berikutnya, pihak DKK belum dapat memastikan, sebab penyaluran bantuan selanjutnya juga bergantung dari pembaca Kompas.

Winarto menyarankan, fasilitas jaminan kesehatan masyarakat atau jamkesmas bisa menjadi alternatif bagi Yunita untuk dapat menjalani operasi selanjutnya.

“Diharapkan Yoseph dapat mengurus jamkesmas itu supaya untuk keperluan biaya operasi, perawatan, dan pegiatan selama di rumah sakit dapat dipenuhi dengan falsitas jamkesmas. Pihak desa setempat diharapkan dapat mengurus jamkesmas bagi Yunita. Sementara untuk biaya transportasi, maupun akomodasi diharapkan ada pihak lain yang tergerak untuk membantu keluarga ini,” kata Winarto.    

Sementara itu Domitila mengungkapkan, pihaknya sungguh berterima kasih atau semua bantuan yang diberikan oleh DKK. 

“Kami tidak bisa membalas atas semua bantuan yang telah diberikan. Tapi biarlah semua pertolongan yang diberikan Tuhan yang memberkati,” kata Ny Domitila.

Jamkesmas   

Saat ini, kata Yoseph, dirinya saat ini sedang mengurus jamkesmas ke kantor desa.  “Kami sudah melapor kepada kepala desa, dan urusan jamkesmas ini sedang diupayakan. Kami sungguh berharap lewat jamkesmas Yunita dapat menjalani operasi dubur,” kata Yoseph.

Domitila melahirkan Yunita tanggal 30 Juli 2008 lalu di Puskesmas Riaraja, yang letaknya sekitar 10 km dari rumah mereka. Yunita ternyata dilahirkan dengan kondisi cacat fisik tanpa dubur. Dengan kondisi waktu itu, kotoran dikeluarkan dari tubuh Yuvita melewati kemaluannya. 

Pihak puseksmas lalu merujuk Yunita ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Ende, tetapi pihak RSUD Ende tak dapat melakukan operasi, sebab rumah sakit itu tak memiliki dokter bedah umum. Domitila kemudian diberi pilihan untuk operasi Yunita yang terdekat, yaitu antara Kupang atau Denpasar. 

Namun ketika Yunita dibawa ke RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang, pihak rumah sakit setempat setelah melakukan diagnosa menyatakan tak mampu melakukan operasi dubur Yunita dengan pertimbangan tingkat kesulitan yang belum dapat ditangani rumah sakit tersebut.

Yunita kemudian disarankan dibawa ke rumah sakit di Denpasar, Surabaya atau Jakarta, hingga akhirnya pihak DKK memutuskan Yunita dibawa ke RSCM, Jakarta. 
 Sementara itu Pengelola Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Ende Regina Malo menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2006, peserta jamkesmas tingkat Kabupaten Ende telah ditetapkan sebanyak 194.523 jiwa.

Namun peserta jamkesmas yang ditanggung pemerintah dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Nagera (APBN) hanya 131.204 jiwa, sehingga selebihnya sebanyak 63.319 jiwa ditanggung dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). 

“Tapi apabila ada warga miskin seperti Yunita yang hendak mendaftar menjadi peserta baru jamkesmas tetap dapat mengajukan diri lewat kepala desa setempat. Nanti dari pihak kepala desa yang akan mengajukan ke bupati. Jika memang keuangan daerah memungkinkan tentu akan ditanggung,” kata Regina.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau