MEDAN, JUMAT - Minat baca masyarakat kini meningkat. Sayangnya keinginan mereka untuk membeli buku terbentur lemahnya daya beli. Perlu kemudahan pemerintah untuk memenuhi minat masyarakat membaca.
"Dari berbagai pameran buku, masyarakat yang datang selalu banyak. Mereka datang hanya untuk mendapatkan buku murah para penerbit menyediakan diskon. Sayangnya setelah pameran mereka kesulitan membeli buku," tutur Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Setia Dharma Madjid, di sela-sela acara 'Pesta Buku Sumatera Utara 2008,' Jumat (28/11) di Medan.
Setia mengatakan lemahnya daya beli masyarakat, katanya, tidak mempengaruhi minat baca yang meningkat. "Pemerintah bisa memberi kemudahan dengan memperkecil biaya produksi buku," katanya.
Selama ini, yang membuat harga buku mahal adalah biaya produksinya. Biaya yang dia maksud di antaranya pajak kertas, cetak, pajak penghasilan kepada pengarang, dan pajak bahan-bahan lain. "Demi memenuhi minat baca masyarakat, pemerintah mestinya menghapus aneka pajak ini," katanya.
Mahalnya buku juga disebabkan oleh terpusatnya penerbit di Jawa. Untuk memperpendek antara tempat produksi buku dengan pembaca, mestinya penerbit tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Saat ini, dari 900 anggota Ikapi, 90 persen di antaranya berada di Jawa. Selebihnya tersebar di luar Jawa.
Pesta Buku
Untuk merangsang minat pembaca buku, Badan Perpustakaan Daerah Sumut bekerjasama dengan Angkatan Muda Melayu Indonesia (AMMI) menggelar pesta buku mulai 28 November sampai 7 Desember. Dalam acara ini 55 penerbit menampilkan sekitar 50.000 judul buku. Panitia juga menggelar acara karnaval mobil pintar dan lomba pidato.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang