Krisis Asia Kian Dalam

Kompas.com - 29/11/2008, 05:09 WIB

TOKYO, JUMAT - Negara-negara raksasa ekonomi Asia seperti Jepang dan India, Jumat (28/11), mengumumkan penurunan dalam perdagangan internasional dan tingkat pengeluaran konsumen, dampak krisis keuangan dunia yang kian dalam melanda Asia. China mulai mengingatkan soal bahaya pengangguran.

Jepang semakin terbenam dalam resesi setelah angka produksi pabrik negara itu anjlok 3,1 persen selama bulan Oktober. Data resmi juga menyebutkan bahwa belanja konsumen turun 3,8 persen pada bulan yang sama dibandingkan dengan tahun lalu.

”Angka ini jelas berita buruk,” ujar Kepala Ekonom Societe Generale Glenn Maquire. ”Aktivitas industri Jepang bakal memburuk dalam jangka pendek, mungkin mencatat tingkat terburuk. Apalagi ekspor Jepang ke AS sebelumnya sudah merosot,” lanjut Maquire.

Yang sedikit membantu, angka pengangguran di Jepang bulan Oktober turun menjadi 3,7 persen dari 4,0 persen pada bulan September. Tingkat inflasi inti Jepang juga turun menjadi 1,9 persen pada bulan Oktober akibat harga energi yang turun dan melemahnya permintaan domestik akibat resesi.

India yang mencatat pertumbuhan ekonomi meyakinkan melaporkan penurunan pertumbuhan ekonomi menjadi 7,6 persen pada kuartal ketiga tahun 2008. Turun dari 7,9 persen dari kuartal kedua. Sekalipun angka ini masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain yang mengalami resesi, penurunan ekonomi India masih akan berlanjut karena krisis keuangan sudah menyebar ke seluruh dunia.

Dampak krisis juga semakin dalam di Korea Selatan. Tingkat produksi industri di negara ini merosot 2,3 persen pada bulan Oktober, indikasi bahwa ekonomi Korsel yang didorong ekspor terus melemah lebih cepat dari perkiraan.

China yang memperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun 2009 hanya 7,5 persen, terendah dalam 19 tahun ini, mulai waspada pada tingkat pengangguran yang bakal merebak. Menteri Perencanaan China Zhang Ping mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi China masih berlangsung bulan November.

Kondisi ini, menurut Zhang, akan mengundang pemutusan hubungan kerja massal dan kerusuhan sosial. Sejumlah buruh di China yang mengalami pemutusan hubungan kerja mulai melakukan aksi protes di sejumlah kota.

Investor melihat stimulus

Meski terus bermunculan laporan yang mengindikasikan penurunan ekonomi, kalangan investor di bursa saham lebih melihat pada banyak paket stimulus ekonomi yang diambil guna mencegah krisis berlanjut. Investor juga melihat langkah penurunan suku bunga sebagaimana dilakukan China sebagai langkah mengurangi krisis.

Sikap investor ini membuat harga saham di Jepang, Jumat, naik 1,7 persen, Korsel naik 1,2 persen, dan Australia naik 4,3 persen. Harga saham di Shanghai, China, melemah 2,4 persen karena aksi ambil untung. Juga harga saham di Bombay, India, dibuka turun 1,4 persen setelah kemarin ditutup karena aksi teroris.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau