TOKYO, JUMAT - Negara-negara raksasa ekonomi Asia seperti Jepang dan India, Jumat (28/11), mengumumkan penurunan dalam perdagangan internasional dan tingkat pengeluaran konsumen, dampak krisis keuangan dunia yang kian dalam melanda Asia. China mulai mengingatkan soal bahaya pengangguran.
Jepang semakin terbenam dalam resesi setelah angka produksi pabrik negara itu anjlok 3,1 persen selama bulan Oktober. Data resmi juga menyebutkan bahwa belanja konsumen turun 3,8 persen pada bulan yang sama dibandingkan dengan tahun lalu.
”Angka ini jelas berita buruk,” ujar Kepala Ekonom Societe Generale Glenn Maquire. ”Aktivitas industri Jepang bakal memburuk dalam jangka pendek, mungkin mencatat tingkat terburuk. Apalagi ekspor Jepang ke AS sebelumnya sudah merosot,” lanjut Maquire.
Yang sedikit membantu, angka pengangguran di Jepang bulan Oktober turun menjadi 3,7 persen dari 4,0 persen pada bulan September. Tingkat inflasi inti Jepang juga turun menjadi 1,9 persen pada bulan Oktober akibat harga energi yang turun dan melemahnya permintaan domestik akibat resesi.
India yang mencatat pertumbuhan ekonomi meyakinkan melaporkan penurunan pertumbuhan ekonomi menjadi 7,6 persen pada kuartal ketiga tahun 2008. Turun dari 7,9 persen dari kuartal kedua. Sekalipun angka ini masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain yang mengalami resesi, penurunan ekonomi India masih akan berlanjut karena krisis keuangan sudah menyebar ke seluruh dunia.
Dampak krisis juga semakin dalam di Korea Selatan. Tingkat produksi industri di negara ini merosot 2,3 persen pada bulan Oktober, indikasi bahwa ekonomi Korsel yang didorong ekspor terus melemah lebih cepat dari perkiraan.
China yang memperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun 2009 hanya 7,5 persen, terendah dalam 19 tahun ini, mulai waspada pada tingkat pengangguran yang bakal merebak. Menteri Perencanaan China Zhang Ping mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi China masih berlangsung bulan November.
Kondisi ini, menurut Zhang, akan mengundang pemutusan hubungan kerja massal dan kerusuhan sosial. Sejumlah buruh di China yang mengalami pemutusan hubungan kerja mulai melakukan aksi protes di sejumlah kota.
Investor melihat stimulus
Meski terus bermunculan laporan yang mengindikasikan penurunan ekonomi, kalangan investor di bursa saham lebih melihat pada banyak paket stimulus ekonomi yang diambil guna mencegah krisis berlanjut. Investor juga melihat langkah penurunan suku bunga sebagaimana dilakukan China sebagai langkah mengurangi krisis.
Sikap investor ini membuat harga saham di Jepang, Jumat, naik 1,7 persen, Korsel naik 1,2 persen, dan Australia naik 4,3 persen. Harga saham di Shanghai, China, melemah 2,4 persen karena aksi ambil untung. Juga harga saham di Bombay, India, dibuka turun 1,4 persen setelah kemarin ditutup karena aksi teroris.