Banjir di Samarinda Belum Surut

Kompas.com - 29/11/2008, 07:12 WIB

SAMARINDA, SABTU- Ribuan warga Samarinda, Kalimatan Timur (Kaltim) terpaksa mengungsi lagi ke rumah keluarga atau kenalan yang luput dari rendaman air, mengingat  kota itu  kembali dilanda  banjir seperti kasus dua pekan silam. 

Jumat (28/11) malam Kantor Berita ANTARA melaporkan, ribuan warga terpaksa mengungsi ke daerah bebas banjir akibat rumahnya terendam air cukup tinggi antara 20-50 Cm. "Kami terpaksa pindah ke rumah keluarga di kawasan Jl. Basuki Rahmat yang bebas dari banjir karena ketinggian air pada kawasan pemukiman di Jl. Dr. Soetomo sudah mencapai satu meter. Air sudah masuk ke rumah warga antara 20-50 Cm," kata Farid, salah seorang warga Jl. Dr. Soetomo.

Informasi yang diperoleh Kompas.com, hingga Sabtu pagi ini bahkan banjir yang merendam Kota Tepian itu belum juga surut. Sejumlah kawasan masih terendam, termasuk Bandara Temindung dan kompleks perbelanjaan terbesar Mal Lembuswana.

Sebagian warga Jl. Dr. Soetomo terlihat bergegas menyelamatkan barang-barang berharganya karena ketinggian air terus meningkat. "Bagi warga yang rumahnya bertingkat tidak masalah karena barang-barang berharga bisa dipindahkan ke lantai atas namun banyak pula warga yang rumahnya hanya satu lantai sehingga terpaksa mengungsi dengan membawa sebagian harta bendanya," kata Farid. 

Seperti data banjir sebelumnya, tercatat antara 25.000 sampai 35.000 jiwa warga Samarinda menjadi korban banjir khususnya pada daerah-daerah yang selama ini dikenal sebagai kawasan "langganan" musibah tersebut, antara lain Jl. Dr. Soetomo, Jl. Pemuda I, Jl. Pemuda II, Jl. Pemuda III dan Jl. Pemuda IV, Jl. Remaja, Jl. A. Yani, Jl Belibis, Jl. Tengkukur, Jl Danau Toba, Jl Danau Poso, serta salah satu kawasan paling padat penduduknya di Samarinda, yakni Sungai Pinang. 

Ia menuturkan bahwa alasan ia bersama keluarga mengungsi selain akibat banjir juga karena PLN sejak tiga hari terakhir memutuskan aliran listrik di kawasan banjir. Padahal di Dr. Soetomo termasuk daerah padat penduduk yang dihuni ribuan jiwa warga "Kota Tepian" itu.

Pihak PLN memutuskan aliran listrik pada kawasan banjir karena khawatir terjadi kecelakaan akibat hubungan arus pendek. 

Sebelumnya, sejak 4 November 2008, sebagian wilayah Samarinda terendam air selama 10 hari akibat curah dan itensitas hujan di atas normal bersamaan dengan pasang Sungai Karang Mumus dan Sungai Mahakam.

Banjir kali ini diduga akibat Waduk Benanga, Desa Lempake --20 Km arah utara pusat Kota Samarinda-- tidak mampu menahan jutaan meter kubik debit air hujan sehingga meluap melalui Sungai Karang Mumus serta merendam belasan ribu rumah warga.

Berdasarkan prakiraan cuaca BMG Samarinda menyebutkan bahwa curah dan intensitas hujan kembali di atas normal pada akhir Desember 2008 dan awal 2009 sehingga diharapkan agar warga kota yang penduduknya sekitar 700.000 jiwa itu mengantisipasi akan musibah susulan banjir pada akhir tahun ini serta awal tahun depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau