JAKARTA, SABTU - Kelangkaan pupuk terjadi di mana-mana. Di beberapa daerah di Jawa, petani sampai harus menghadang truk yang lewat untuk bisa membeli pupuk, tetapi Sekretaris Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Anggoro, membantah keras telah terjadi kelangkaan pupuk yang membuat petani 'menjerit'.
Lalu, apa yang terjadi? Anggoro mengatakan, Deptan menjamin tidak ada kelangkaan pupuk. Sebab, stok pupuk dinyatakan aman hingga Desember mendatang.
Menurut Anggoro, kelangkaan hanya terjadi di sejumlah daerah yang bersifat kasuistis dan tidak bisa digeneralisir.
"Saya nyatakan, pupuk tidak langka. Secara ketersediaan tidak langka, kami menjamin stok cukup dan barang ada. Yang katanya ada kelangkaan itu kan, kasus per kasus tidak di seluruh Indonesia," kata Anggoro dalam diskusi Radio Trijaya "Lagi, Pupuk Langka!" di Jakarta, Sabtu (29/11).
Permasalahannya, dikatakan Anggoro, terletak pada realokasi distribusi yang kewenangannya telah didelegasikan oleh Deptan kepada pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten.
"Sekarang tergantung kecepatan (masing-masing pemda). Secara sistem, kita sudah menyiapkan kalau terjadi kelangkaan bisa sigap mengatasinya," lanjut dia.
Wakil Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Pusat, Jum Perkasa berpendapat, pernyataan pemerintah tersebut memang melegakan bagi para petani. Tapi, pada kenyataannya, HKTI masih menerima laporan petani di Pulau Jawa yang masih kesulitan menemukan pupuk.
"Sekarang ini kan ada alokasi untuk pupuk subsidi dan non subsidi. Yang langka pupuk bersubsidi. Petani itu, yang penting ada barang. Harga dinaikkan, mereka juga pasti mau," ujar Jum.
Para petani, menurutnya, pasti tidak akan keberatan jika harga eceran tertinggi (HET) dinaikkan dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.300 atau Rp1.400.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang