Deptan : Pupuk Langka? Stok Aman, kok!

Kompas.com - 29/11/2008, 10:08 WIB

JAKARTA, SABTU - Kelangkaan pupuk terjadi di mana-mana. Di beberapa daerah di Jawa, petani sampai harus menghadang truk yang lewat untuk bisa membeli pupuk, tetapi  Sekretaris Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Anggoro, membantah keras telah terjadi kelangkaan pupuk yang membuat petani 'menjerit'.

Lalu, apa yang terjadi? Anggoro mengatakan, Deptan menjamin tidak ada kelangkaan pupuk. Sebab, stok pupuk dinyatakan aman hingga Desember mendatang.

Menurut Anggoro, kelangkaan hanya terjadi di sejumlah daerah yang bersifat kasuistis dan tidak bisa digeneralisir.

"Saya nyatakan, pupuk tidak langka. Secara ketersediaan tidak langka, kami menjamin stok cukup dan barang ada. Yang katanya ada kelangkaan itu kan, kasus per kasus tidak di seluruh Indonesia," kata Anggoro dalam diskusi Radio Trijaya "Lagi, Pupuk Langka!" di Jakarta, Sabtu (29/11).

Permasalahannya, dikatakan Anggoro, terletak pada realokasi distribusi yang kewenangannya telah didelegasikan oleh Deptan kepada pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten.

"Sekarang tergantung kecepatan (masing-masing pemda). Secara sistem, kita sudah menyiapkan kalau terjadi kelangkaan bisa sigap mengatasinya," lanjut dia.

Wakil Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Pusat, Jum Perkasa berpendapat, pernyataan pemerintah tersebut memang melegakan bagi para petani. Tapi, pada kenyataannya, HKTI masih menerima laporan petani di Pulau Jawa yang masih kesulitan menemukan pupuk.

"Sekarang ini kan ada alokasi untuk pupuk subsidi dan non subsidi. Yang langka pupuk bersubsidi. Petani itu, yang penting ada barang. Harga dinaikkan, mereka juga pasti mau," ujar Jum.

Para petani, menurutnya, pasti tidak akan keberatan jika harga eceran tertinggi (HET) dinaikkan dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.300 atau Rp1.400.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau