Sikap Tak Jelas Pemerintah Perparah PHK

Kompas.com - 29/11/2008, 15:51 WIB

JAKARTA, SABTU - Ketidakjelasan sikap pemerintah merupakan salah satu faktor yang memperparah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tengah masa krisis saat ini.

Hal ini disampaikan oleh pengusaha Anton Supit dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dalam diskusi panel bertajuk Indonesia di Tengah Krisis Keuangan Global: Beda Bail Out Ala Amerika dan Indonesia (BLBI) di Galeri Cafe Jakarta, Sabtu (29/11).

Menurut Anton, saat ini pengusaha yang kerap mengalami serba salah dalam menjaga keberlangsungan hidup perusahaannya di tengah krisis adalah produsen sepatu dan garmen yang bergerak di bidang ekspor yang umumnya memperkerjakan pekerja dalam jumlah lima digit.

"Nah, kalau sudah kurang order paling tidak itu temporary dan ada jaminan kontinyuitas dari pemerintah. Kalau kita tahan dengan karyawan segitu banyak,misalnya ada perusahaan dengan 45.000 karyawan, ini sesuatu yang sangat gila kalau dia pertahankan. Tentu tak ada pengusaha yang ingin bangkrut kecuali dia hitung-hitungan kemudian buat deposito," tutur Anton.

Namun sayangnya, pemerintah tak kunjung memberikan kepastian itu atau paling tidak memberikan sinyal yang jelas, misalnya jaminan THC akan normal atau menghilangkan sejumlah biaya.

"Kalau kita deal, oke, bisa kita tunggu. Tapi sekarang? Apa yang harus jadi beban pemerintah, justru kita yang bayar. Apalagi menjelang pemilu banyak yang promosi akan menaikkan upah buruh. Mereka bisa bilang begitu, kita yang susah," tutur Anton.

Anton mengatakan para pengusaha menunggu pemerintah mau menjelaskan dengan tegas kebijakan dan rencana ekonomi jangka panjang ke depan. Bagi Anton, pemerintah tetap memiliki tanggung jawab terbesar untuk memberi pekerjaan kepada rakyatnya dengan menciptakan iklim investasi dan ekonomi yang kondusif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau