SEMARANG, SABTU - Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Jawa Tengah berharap ada simulasi cara memberikan suara sah sebelum pelaksanaan Pemilu 2009 untuk seluruh penyandang tunanetra.
"Sampai sekarang belum ada simulasi karena cara memberikan suara untuk Pemilu 2009 berbeda dengan Pemilu 2004," kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah ITMI Jateng, Endy Risyanto seusai mengikuti sosialiasi UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD di Semarang, Sabtu.
Endy mengatakan, sebenarnya penyandang tunanetra mengaku kesulitan memberikan suara dengan cara centang, apalagi tidak disertai dengan alat bantu.
"Kalau dulu dengan coblos kan kita bisa mengecek bekas atau tanda coblosan. Nah, kalau centang, bagaimana kita bisa mengetahuinya," katanya. Ia menjelaskan, pada Pemilu 2004 penyandang tunanetra mendapat alat bantu damplit berupa karton berlobang-lobang, sehingga memudahkan pemilih untuk memberikan suara. Untuk Pemilu 2009, Endy menjelaskan, akibat banyaknya jumlah partai politik peserta Pemilu 2009 ke depan tidak disediakan alat bantu.
Oleh karena itu, Endy berharap agar sebelum Pemilu 2009 dilakukan simulasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng dan partai politik peserta pemilu.
"Kalau kita yang aktif mencari tahu bagaimana cara centang, apa manfaatnya bagi kita. Kita mencari makan sehari-hari saja sudah sulit," katanya. Menurut Endy, jika tidak ada peran aktif dari penyelenggara pemilu untuk mendekati penyandang tunanetra maka bisa saja tidak bisa berpartisipasi dalam pemilu. Jumlah penyandang tunanetra di 13 daerah pimpinan daerah (DPD) yang berada di Jawa Tengah sebanyak 1.300 orang.
Endy menambahkan, dalam Pasal 156 ayat (1) UU Nomor 10/2008 menyebutkan, pemilih tunanetra, tunadaksa, dan yang mempunyai halangan fisik lain saat memberikan suaranya di tempat pemungutan suara (TPS) dapat dibantu oleh orang lain atas permintaan pemilih."Aturan itu, istilahnya ya hak politik kita tidak terzalimi. Kita boleh membawa pendamping sesuai keinginan," katanya.