JAKARTA, SABTU - Menjelang Idul Adha 1429 H, permintaan masyarakat terhadap dodol, makanan khas Betawi mulai meningkat.
Menurut H. Mamas Masitoh (53), seorang produsen dan penjual di Jakarta, Sabtu, permintaan dodol Betawi selalu meningkat pada saat menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, karena sudah menjadi tradisi bagi warga Betawi .
H. Mamas menuturkan, saat ini ia mampu memproduksi setiap harinya sekitar 400-500 besek dodol. Ia juga mengungkapkan permintaan konsumen biasanya dari masyarakat yang sudah menjadi langganan.
Beberapa konsumen yang menjadi langganannya berasal dari Bintaro, Depok, serta Bandung. Bahkan kata H. Mamas, di rumahnya di Batu Ampar I, Condet, Jakarta Timur dodol buatannya pernah ada yang memesan dalam jumlah yang banyak untuk dibawa ke Arab Saudi.
Meningkatnya jumlah permintaan dodol Betawi diimbangi dengan menambah jumlah karyawan. Saat ini karyawannya berjumlah tujuh orang. Namun, katanya tiga hari menjelang Idul Adha nanti, karyawannya bisa bertambah menjadi 25 orang.
Harga dodol Betawi yang dijual H. Mamas tergantung dari jenis rasanya. Untuk rasa durian, harganya Rp40 ribu perbesek, rasa ketan hitam Rp45 ribu, dan rasa yang biasa Rp30 ribu. Ia pun mengaku omzetnya saat ini bisa mencapai Rp500 ribu-Rp 600 ribu perhari.
Namun, saat Idul Adha karena banyak acara terutama masyarakat Betawi dan Arab, omzet yang bisa diraih bisa meningkat sebesar Rp1,3 juta-Rp 2,3 juta.
Larisnya permintaan dodol Betawi membuat produsen menyiapkan pasokan dalam jumlah yang cukup untuk mengantisipasi jumlah permintaan dari konsumen.
Seperti diungkapkan Wan Husein (66), produsen dan penjual Dodol Betawi lainnya di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Wan Husein mengaku ia setiap harinya mampu memproduksi sebanyak 300 besek menjelang Idul Adha kali ini. Hal ini menurutnya berbeda saat sebulan sebelumnya karena ia hanya memproduksi sebanyak 50-80 besek perhari.
Wan Husein yang keturunan Arab-Betawi ini yang memulai usahanya yang diturunkan dari orangtuanya sejak 1970-an, menambahkan omzet usahanya mencapai Rp400 ribu perhari. Saat Idul Adha omzetnya bisa mencapai Rp1,5 juta perhari.
Menurut Husein, bahan dasar seperti kelapa, gula merah, beras ketan, dan durian dibeli di Pasar Minggu. Dalam prosesnya Wan Husein pun sering mencampur adonan dodolnya dengan nangka cempedak untuk membuat cita rasa yang berbeda.
"Pesanan dari pelanggan mulai dari 50, 100 kuali, dan saat ini saya sudah mendapat pesanan 150 kuali jelang Idul Adha. Satu kuali berisi campuran 10 liter beras ketan, 35-40 geluntung kelapa parut, dan 1,5 sampai 2 peti gula merah. Bisa juga dicampur durian atau nangka cempedak," jelasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang