Jelang Idul Adha, Permintaan Dodol Betawi Meningkat

Kompas.com - 29/11/2008, 21:25 WIB

JAKARTA, SABTU - Menjelang Idul Adha 1429 H, permintaan masyarakat terhadap dodol, makanan khas Betawi mulai meningkat.
     
Menurut H. Mamas Masitoh (53), seorang produsen dan penjual di Jakarta, Sabtu, permintaan dodol Betawi selalu meningkat pada saat menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, karena sudah menjadi tradisi bagi warga Betawi .
    
H. Mamas menuturkan, saat ini ia mampu memproduksi setiap harinya sekitar 400-500 besek dodol. Ia juga mengungkapkan permintaan konsumen biasanya dari masyarakat yang sudah menjadi langganan.

Beberapa konsumen yang menjadi langganannya berasal dari Bintaro, Depok, serta Bandung. Bahkan kata H. Mamas, di rumahnya di Batu Ampar I, Condet, Jakarta Timur dodol buatannya pernah ada yang memesan dalam jumlah yang banyak untuk dibawa ke Arab Saudi.

Meningkatnya jumlah permintaan dodol Betawi diimbangi dengan menambah jumlah karyawan. Saat ini karyawannya berjumlah tujuh orang. Namun, katanya tiga hari menjelang Idul Adha nanti, karyawannya bisa bertambah menjadi 25 orang.

Harga dodol Betawi yang dijual H. Mamas tergantung dari jenis rasanya. Untuk rasa durian, harganya Rp40 ribu perbesek, rasa ketan hitam Rp45 ribu, dan rasa yang biasa Rp30 ribu. Ia pun mengaku omzetnya saat ini bisa mencapai Rp500 ribu-Rp 600 ribu perhari.
    
Namun, saat Idul Adha karena banyak acara terutama masyarakat Betawi dan Arab, omzet yang bisa diraih bisa meningkat sebesar Rp1,3 juta-Rp 2,3 juta.

Larisnya permintaan dodol Betawi membuat produsen menyiapkan pasokan dalam jumlah yang cukup untuk mengantisipasi jumlah permintaan dari konsumen.

Seperti diungkapkan Wan Husein (66), produsen dan penjual Dodol Betawi lainnya di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Wan Husein mengaku ia setiap harinya mampu memproduksi sebanyak 300 besek menjelang Idul Adha kali ini. Hal ini menurutnya berbeda saat sebulan sebelumnya karena ia hanya memproduksi sebanyak 50-80 besek perhari.

Wan Husein yang keturunan Arab-Betawi ini yang memulai usahanya yang diturunkan dari orangtuanya sejak 1970-an, menambahkan omzet usahanya mencapai Rp400 ribu perhari. Saat Idul Adha omzetnya bisa mencapai Rp1,5 juta perhari.  

Menurut Husein, bahan dasar seperti kelapa, gula merah, beras ketan, dan durian dibeli di Pasar Minggu. Dalam prosesnya Wan Husein pun sering mencampur adonan dodolnya dengan nangka cempedak untuk membuat cita rasa yang berbeda.

"Pesanan dari pelanggan mulai dari 50, 100 kuali, dan saat ini saya sudah mendapat pesanan 150 kuali jelang Idul Adha. Satu kuali berisi campuran 10 liter beras ketan, 35-40 geluntung kelapa parut, dan 1,5 sampai 2 peti gula merah. Bisa juga dicampur durian atau nangka cempedak," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau