Awas Pembunuh Berbahaya Nomor Satu!

Kompas.com - 29/11/2008, 22:53 WIB

JAKARTA, SABTU — Penyakit jantung dan pembuluh darah yang biasa disebut kardiovaskular (CVD) menjadi ancaman utama kehidupan manusia dan menempati urutan pertama penyebab terbanyak kematian di belahan dunia.
     
"Tahun 2002 CVD menyumbang 17 juta kasus kematian dunia. Sebagaian besar menimpa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Diperkirakan pada tahun 2020 angka kematian akan membengkak menjadi 20 juta orang," kata kardiolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Harmani Kalim, di Jakarta, Sabtu.
     
Ia mengatakan, sebagian besar kematian tersebut disebabkan oleh stroke dan penyakit jantung koroner (CHD). Pada penyakit CHD dalam arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung mengalami penyempitan dan beberapa kasus aliran darah terblokir.
    
"Hal ini menyebabkan darah tidak dapat disalurkan dengan baik ke otot-otot jantung. Apabila oksigen tidak dapat disalurkan dengan baik ke otot-otot jantung, jantung akan menjadi lemah dan tidak dapat menyediakan darah ke seluruh bagian tubuh, akibatnya orang tersebut akan meninggal," katanya.
     
Menurut Harmani, ada faktor resiko penyebab penyakit jantung koroner yang tidak dapat diubah, seperti faktor usia, jenis kelamin, ras, dan riwayat keluarga.
     
Namun, ada juga faktor resiko yang dapat diubah, seperti tingginya kolesterol, perilaku merokok, dan tekanan darah tinggi. Ketiganya ditengarai ikut menyumbang kematian akibat CVD dan tidak boleh diremehkan, katanya.
     
Penelitian Poluter, merokok dapat meningkatkan resiko CVD 1,6 kali, hipertensi dengan tekanan darah sistolik menyumbang tiga kali resiko dan kolesterol sebesar empat kali. Apabila ketiga faktor resiko tersebut terdapat pada satu orang, maka peluang resikonya membengkak menjadi 16 kali.
     
Dr Harmani lebih lanjut mengatakan, kolesterol memberikan sumbangan yang sangat signifikan pada terjadinya aterosklerosis. Terdapat dua jenis kolesterol yang harus diketahui, yaitu LDL (low density lipoprotein) dan high density lipoprotein (HDL), LDL disebut juga kolesterol jahat karena mudah melekat pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan lemak sehingga memicu aterosklerosis (pengerasan dan penyumbatan pembuluh darah).
     
HDL, ujar Harmani disebut kolesterol baik karena mempunyai sifat antianterogenik (mencegah aterosklerosis), yaitu mengangkut kolesterol dari pembuluh darah atau jaringan lain menuju hati untuk dikeluarkan sebagai asam empedu.
     
Bila keseimbangan terganggu, kadar LDL cenderung meningkat dan kadar HDL cenderung makin rendah sehingga aterosklrerosis lebih mudah terjadi.
     
Kadar kolesterol dalam darah dikatakan tinggi bila kadar kolesterol total lebih besar 240mg/dl. Kadar triliserida darah tinggi bila lebih besar dari 200 mg/dl. Kadar kolesterol LDL tinggi bila lebih besar dai 160 mg/dl. Kadar kolesterol HDL rendah bila kurang dari 40 mg/dl.
     
Menurut Harmani, tingginya faktor resiko akibat dari tingginya kadar kolesterol LDL tersebut telah mendorong sejumlah peneliti untuk mencari berbagai cara mengurangi faktor-faktor resiko itu untuk menurunkan angka kematian akibat serangan jantung koroner, salah satunya menggunakan obat-obatan yang tersedia.
     
Studi Jupiter yang mengumumkan hasil studi terbaru melibatkan 17.802 pasien di Amerika Serikat terhadap penggunaan rosuvastatin 20 mg menunjukkan obat tersebut mampu menurunkan resiko serangan jantung, stroke dan kejadian kardiovaskular lainnya pada pasien dengan kadar kolesterol dalam darah/LDL-C rendah hingga normal, tetapi memiliki resiko kardiovaskular tinggi.
     
Hasil studi Jupiter yang disampaikan pada sesi ilmiah American Heart Association Scientific dan diumumkan secara online oleh New England Journal of Medicine di New Orleans, AS memberikan informasi baru tentang efek rosuvastatin terhadap resiko kardio vaskular.
     
Studi tersebut mengkonfirmasi bahwa rosuvastatin secara dramatis mampu menurunkan kadar kolesterol LDL-C dan telah terbukti hingga 50 persen menurunkan resiko serangan jantung dan stroke pada pasien yang memiliki hsCRP tinggi tetapi kadar kolesterol-nya rendah hingga normal.    
     
Sementara itu, Dr Hermin Sitompul dari Astrazeneca Indonesia, berharap data studi JUPITER bisa mendapatkan izin pemerintah pada pertengahan tahun 2009 dan jika disetujui, maka perusahaan itu akan memulai aktivitas promosi dengan label yang sudah disetujui.
     
Rosuvastatin telah memiliki ijin edar di lebih dari 95 negara. Di seluruh dunia, hampir 15 juta pasien telah menggunakan rosuvastatin. Data yang diperoleh, baik dari uji coba klinis maupun dari para pengguna di seluruh dunia menyebutkan bahwa profil keamanan rosuvastatin setara dengan statin lain yang beredar di pasaran.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau