Begitu Populernya Rossa

Kompas.com - 30/11/2008, 03:00 WIB

SUSI IVVATY

Sebagai penyanyi, apa istimewanya Rossa? Kalau boleh memilih satu jawaban, karena ia begitu dicintai penggemarnya. Konser tunggal bertema ”Persembahan Cinta” di Jakarta Convention Center, Rabu (26/11), dengan iringan musik Erwin Gutawa Orchestra dan pengarah artistik Jay Subyakto membuktikan itu.

Sebanyak 4.000-an tiket sudah 95 persen terjual sejak dua pekan sebelum pertunjukan. Promotor tidak menoleransi penjualan di ticket box jika ternyata sudah terjual ludes sebelum pertunjukan. ”Tidak ada aturan harus menyediakan sekian tiket di ticket box. Kalau risiko tidak terjual, bagaimana,” kata ko-promotor dari Merah Putih Showbiz, Oktariadi Anies.

Alhasil, beberapa pengunjung yang kecewa pun mengomel sambil menggedor kaca penjualan tiket meski di sana terpampang tulisan sold out. Harga tiket bervariasi, dari yang termahal Rp 850.000, Rp 650.000, Rp 350.000, Rp 250.000, hingga Rp 150.000.

Dicintai penggemar menjadi satu ukuran pencapaian yang luar biasa, seperti diinginkan Rossa. Ia—katanya saat jumpa pers seusai konser—ingin menangis melihat penonton yang membeludak. Mulanya takut, ”Jangan-jangan diborong calo,” ujarnya. Mungkin pikir Rossa, kalau diborong calo, apa lantas terbeli juga oleh penonton. Nyatanya, sepanjang jalan masuk ke JCC, para calo malah sibuk mau membeli tiket dari penonton. ”Rossa Rossa... ada tiket lebih? Saya bayar mahal”. Sudah biasa.

Begitulah kata cewek kelahiran Sumedang, 9 Oktober 1978, bernama asli Sri Rossa Roslaina Handiyani ini, yang dalam 12 tahun karier bermusiknya mengantongi tiga penghargaan Anugerah Musik Indonesia Award sebagai penyanyi solo wanita terbaik (2001, 2002, dan 2005). Tahun 2008, ia mendapat AMI untuk penampilannya membawakan lagu ”Ayat-ayat Cinta” dari album soundtrack film Ayat-ayat Cinta.

Rossa juga beberapa kali memperoleh penghargaan SCTV Award serta penghargaan sejenis lain. Terakhir, ia mendapat Anugerah Industri Musik (AIM) Award di Malaysia sebagai Artis Luar Negara Terbaik 2008, mengalahkan Krisdayanti, Ungu, GIGI, Peterpan, dan Kerispatih.

Selalu beruntung

Saat konser, Rossa menyiratkan keberuntungan yang kerap memihak kariernya. Ia sempat bingung setelah lagu ”Nada-nada Cinta” gubahan Yongky Soewarno dilepas tahun 1996. Setelah itu, lalu apa?

”Tahun 1999, lama setelah selesai album pertama, saya bertanya-tanya, bakalan jadi penyanyi gak ya. Saya mau bikin album kedua, tetapi belum tahu lagu apa yang jadi hit. Lalu, datang Pak Hadi Santoso kasih lagu yang menegarkan saya,” tuturnya disambut tepuk tangan penonton.

Rossa kemudian melantunkan lagu ”Tegar” ciptaan Melly Goeslaw yang membuat pamornya yang surut kembali pasang. Penonton yang memadati Plenary Hall JCC pun bergemuruh, turut serta menyanyi.

Dalam satu kesempatan wawancara dengan Kompas, Rossa menengarai bahwa pencapaiannya tidak semata-mata karena keberuntungan mendapatkan lagu bagus. Lagu bagus pun harus pas. Ia meyakini, kiat menjaga penampilan adalah dengan selalu memilih lagu yang sesuai dengan karakter pribadi dan vokal seseorang.

”Aku enggak pernah mainin lagu stok, tetapi selalu lagu yang custom made (khusus dibikin untuk Rossa). Aku selalu ikutan dalam proses pembuatan lagu,” ujar Rossa.

Setelah itu, Rossa memang selalu mendapat lagu yang pas dan menjadi hit. Kebetulan masa itu lahir pencipta lagu seperti Melly Goeslaw, yang piawai membidikkan karya-karyanya kepada penyanyi. Saya dan Melly sudah seperti kawin, begitu selalu Rossa bilang.

Lagunya, ”Atas Nama Cinta”, memperkukuh kepopulerannya ketika digunakan menjadi soundtrack atau lagu pengisi sinetron Cinta Fitri. Rossa seperti selalu digelimangi keberuntungan.

Hingga ”Ayat-ayat Cinta”

Bahkan, sampai lagu yang kembali melambungkan pamornya, ”Ayat-ayat Cinta”, Melly masih bersamanya. Agaknya, konser pada Rabu malam itu menjadi semacam catatan perjalanan Rossa sebagai penyanyi. Ia memulai dengan nukilan lagu ”Nada-nada Cinta” (tanpa iringan musik) dan menutup dengan ”Ayat-ayat Cinta” serta ”Takdir Cinta” (dua lagu dalam album Ayat-ayat Cinta), disambung kembali dengan ”Nada-nada Cinta”.

Rossa mengenakan tiga gaun rancangan Sally Koeswanto dan dua gaun rancangan Sebastian Gunawan. Setelah ”Nada-Nada Cinta”, Rossa berturut-turut menyanyikan ”Terlalu Cinta”, ”Malam Pertama”, lantas diselingi overture oleh Erwin Gutawa Orchestra. Ia kembali tampil dengan lagu antara lain ”Bila Salah”, ”Aku Bukan Untukmu”, ”Tegar”, ”Bubuy Bulan”, ”Tercipta Untukmu” berduet dengan Pasha, ”Atas Nama Cinta”, dan ”Hati Yang Terpilih” berduet dengan Melly.

Saat lagu ”Sakura”, Rossa sempat turun panggung dan bernyanyi bersama penonton di VVIP. Untuk merepresentasikan kesundaan, ia menembangkan ”Bubuy Bulan”, dipersembahkan untuk ibunya yang malam itu hadir. Kata Rossa, lagu itu mengingatkannya pada peristiwa sewaktu ia kecil saat ibunya kerap melantunkan lagu pengantar tidur.

Konser Persembahan Cinta ini terasa menjadi konser bertabur cinta. Lagu-lagunya bertema cinta, penonton datang dengan cinta, dan Rosa pun menyanyi dengan segenap cinta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau